Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://ANTARAfoto.com)
Dream - Bursa saham syariah menutup perdagangan tahun 2015 di zona hijau. Aksi beli jelang penutupan mendorong indeks syariah melesat lebih tinggi.
Meski menguat, investor asing justru menutup perdagangan 2015 dengan melakukan aksi jual. Lebih dari Rp 100 miliar dana asing ditarik dari pasar modal Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 30 Desember 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menguat 1,355 poin (0,94%) ke level 145,061.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) juga menutup perdagangan 2015 dengan menguat 3,913 poin (0,65%) ke level 603,349.
Sentimen aksi window dressing membuat investor menggelar aksi beli saham. Aksi ini mendorong indeks syariah bertahan positif sepanjang perdagangan.
ISSI bahkan sempat menembus level tertingginya di 145,171. Sementara JII yang mencetak posisis tertinggi di 607,781, justru menghadapi tekanan jual jual penutupan.
Transaksi perdagangan saham syariah di akhir 2015 ini mencapai Rp 3,41 triliun. Aksi beli mengangkat 107 emiten syariah menatap tahun baru di zona positif. Sebaliknya, 74 emiten syariah harus tergusur ke teritori negatif dan 53 lainnya bertahan stagnan.
Lebih dari separuh penghuni indeks saham bluechips syariah juga bergerak positif.
Investor tampaknya berusaha menghindari saham barang konsumsi dan manufaktur yang turun tertinggi 0,52 persen dan 0,38 persen. Koreksi juga dialami emiten industri aneka yang turun 0,27 persen dan pertambang 0,09 persen.
Kabar baik justru menyapa emiten perkebunan yang melesat tinggi di penutupan akhir tahun ini. Emiten perkebunan melesat 5,42 persen sementara perdagangan menanjak 2,42 persen.
Saham bluechips syariah yang menjadi jawara di penutupan akhir tahun ini adalah UNTR yang naik Rp 500 per saham. Disusul top gainer lainnya ICBP yang naik Rp 325, LPPF Rp 300, AKRA Rp 275, dan SSMS Rp 250 per saham.
Sebaliknya saham UNVR menghuni daftar top losser dengan koreksi Rp 250 per saham. Diikuti INT, SILO, AALI, dan ASII.
Di penghujung akhir tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan posisinya di level 4.500. Naik 23,647 poin (0,52%), IHSG menutup perdagangan di level 4.593,008.
Dari pasar keuangan, kurs rupiah tertekan jelang pergantian tahun. Turun 105 poin (0,77%), kurs rupiah terhadap dollar AS bertahan di 13.803.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya