Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ada Yang Menjadi Perhatian Bank Syariah Dan Asuransi Syariah Saat Ini. (Foto: Shutterstock)
Dream – Melemahnya harga minyak dunia membuat perbankan dan asuransi syariah global harus menemukan sumber pemasukan baru. Industri ini kini tengah memusatkan perhatian pada profit dan teknologi financial (financial technology/fintech).
Dikutip dari Arab News, Jumat 4 Mei 2018, General Council for Islamic Banks and Financial Institutions (CIBAFI) membuat survei mengenai pola manajerial dua sektor keuangan syariah tersebut dalam menentukan keputusan.
Dari survei yang melibatkan 103 manajer baik bank maupun asuransi syariah, 70 persen responden menyatakan profit dan fintech berperan penting dalam pengambilan keputusan strategis.
Survei juga menunjukkan 45 persen responden berencana membentuk departemen teknologi atau mendirikan anak perusahaan berdasarkan skema kerja sama dengan perusahaan fintech.
Di sisi lain, survei juga mendapat temuan teknologi menjadi risiko terbesar bagi bank-bank komersial Islam. Untuk itu, bank-bank syariah berusaha meningkatkan inovasi produk dan memanfaatkan teknologi baru yang mematuhi prinsip-prinsip syariah.
“ Crowdfunding, P2P, dan platform pembayaran menjadi fokus utama dalam jangka menengah,” tulis CIBAFI.
Perbankan syariah juga melirik teknologi yang bisa berinteraksi dengan konsumen. Contohnya, robot yang bisa melayani nasabah ketika melakukan transaksi keuangan.
Sedangkan di sektor asuransi, CIBAFI merilis survei perdana tentang takaful (asuransi syariah). Ada 55 perusahaan dari 24 negara yang menjadi responden CIBAFI.
Dalam survei tersebut, pelaku industri takaful juga mencemaskan perkembangan teknologi. Mereka menyebut pasar dan kurangnya peluang pertumbuhan sebagai risiko utama.
Sementara untuk mendorong bisnis utama, mereka memanfaatkan saluran distribusi dan lini komersial baru.
Responden juga kesulitan menemukan investasi yang sesuai syariah dalam obligasi dan ekuitas. Beberapa responden juga berniat meningkatkan investasi di bidang-bidang seperti real estate untuk mencari hasil yang lebih tinggi.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya