Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Menurut angka baru dari situs riset pasar eMarketer, para pengguna Facebook telah menghasilkan pendapatan untuk Facebook lebih dari 20% tahun ini dari yang Anda lakukan pada tahun 2014.
Seorang pengguna Facebook rata-rata sekarang ‘menyumbang’ US$ 12,76 atau sekitar Rp 180 ribu setiap tahun untuk pendapatan perusahaan milik Mark Zuckerberg itu.
Seperti dikutip dari Gulf News, Jumat, 9 Oktober 2015, angka tersebut naik dari US$ 10,03 tahun sebelumnya. Angka itu diperkirakan akan meningkat lebih jauh sampai US$ 17,50 pada tahun 2017.
Demikian juga dengan Twitter. Pesaing Facebook ini menghasilkan pendapatan iklan US$ 7,75 per pengguna, naik dari US$ 5,48 tahun lalu, dan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) diperkirakan hampir dua kali lipat selama beberapa tahun ke depan, yang mencapai US$ 12,56 pada tahun 2017.
Dari segi wilayah terdapat perbedaan ARPU yang lebar antara Amerika Serikat (AS) dan seluruh dunia. Hal ini menjadi penegas mengapa AS menerima perhatian lebih besar dari Facebook dan Twitter.
Di satu sisi satu pengguna Facebook di luar AS akan menghasilkan US$ 7,71 tahun ini. Sementara seorang warga Amerika di situs yang sama akan menghasilkan US$ 48,76.
Hal yang sama juga terjadi di Twitter. ARPU Twitter adalah US$ 3,51 di seluruh dunia, tetapi di AS setiap pengguna Twitter menghasilkan US$ 24,48.
Lantas, dari mana semua uang ini berasal? Jawabannya dari dua tempat: pengiklan yang mau membayar lebih untuk menjual produk di media sosial, dan media sosial yang bekerja keras menunjukkan iklan melalui banyak cara.
Facebook dan Twitter mungkin telah mencapai titik jenuh pada jumlah iklan yang mereka tampilkan. Namun dengan kedua raksasa media sosial itu terus mengembangkan produk baru, akan selalu ada tempat-tempat baru untuk menempatkan iklan.
Adapun pengiklan berani membayar lebih karena dua alasan: penawaran dan permintaan. Selama ini pengiklan kebingungan untuk memasang iklan karena peluang untuk iklan langsung ke konsumen telah menyusut, media cetak dianggap telah mati, media penyiaran telah mengalami penurunan, dan munculnya adblocker.
Sebaliknya, perusahaan media sosial menawarkan peluang yang lebih baik untuk pengiklan. Semakin banyak sebuah situs memiliki informasi pengguna tertentu, semakin berharga ruang iklan di layar mereka.
Selain itu gaya baru dan inovatif dari iklan juga mendorong pengiklan untuk menghabiskan lebih banyak uang di media sosial.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya