Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Fitch Ratings Menegaskan Rating Indonesia Ada Di Level BBB-.
Dream – Lembaga pemeringkat keuangan internasional, Fitch Ratings, menetapkan Long Term Foreign dan Local Currcency Issuer Default Ratings (IDRs) Indonesia mendapatkan layak investasi dengan outlook positif di BBB-.
Fitch Ratings juga menegaskan peringkat penerbitan obligasi dan sukuk dengan mata uang domestik dan mata uang asing yang dikeluarkan oleh perusahaan penerbit surat berharga syariah negara (SBSN), di level BBB- atau layak investasi.
Analis utama Fitch Rating, Thomas Rookmaker, mengatakan peringkat Indonesia ini menyeimbangkan beban utang pemerintah yang rendah, prospek pertumbuhan yang baik dan terbatasnya eksposur terhadap risiko sektor perbangkan dan beberapa faktor struktural yang rendah, termasuk standar tata kelola dan lingkungan bisnis.
“ Pemerintah Indonesia terus memperkuat aturan makroekonomi dengan fokus kestabilan makroekonomi dan pertumbuhan yang berkelanjutan, sejak Fitch merevisi outlook Indonesia dari positive menjadi stable pada Desember 2016,” kata Rookmaker dilansir dari laman resmi Fitch Ratings, dikutip Dream, Kamis 20 Juli 2017.
Selain itu, kebijakan moneter dan valuta asing Bank Indonesia juga meningkatkan buffer valas dan meraih rekor tertinggi di US$125 miliar (Rp1.665,69 triliun) pada Mei 2017. Ada perlambatan kenaikan utang luar negeri swasta, karena ada persyaratan eksternal BI yang dilaksanakan sejak 2015. Inilah yang berkontribusi terhadap peningkatan ketahanan keuangan eksternal Indonesia.
Thomas mengatakan, Indonesia masih bergantung kepada komoditas untuk ekspor dan menopang defisit neraca berjalan. “ Fitch Ratings memperkirakan neraca berjalan mendekati 2 persen dari Produk Domestik Bruto sampai 2019,” kata dia.
Thomas melanjutkan revisi pertumbuhan ekonomi di APBNP-P 2017 telah disetujui parlemen menggambarkan pergeseran target dari target-target ambisius lainnya. Fitch memprediksi perekonomian Indonesia tumbuh dari 5 persen pada 2016 menjadi 5,2 persen pada 2017 dan 5,6 persen pada 2018. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya