Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Laba Bersih BCA Sebesar Rp20,0 Triliun Hingga September 2020.
Dream – PT Bank Cental Asia Tbk (BCA) melaporkan laba bersih sebesar Rp20 triliun hingga akhir September 2020. Meski masih mencetak untung, laba bank swasta terbesar di Indonesia ini `terpeleset` 4,2 persen dibandingkan dengan 9 bulan pertama 2019 yang mencapai Rp20,9 triliun.
“ Disebabkan oleh meningkatnya biaya pencadangan,” kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, di Jakarta dalam konferensi pers virtual paparan kinerja, Senin 26 Oktober 2020.
Manajemen memutuskan menaikkan biaya pencadangan BCA sebesar 160,6 persen dari Rp5,6 triliun menjadi Rp9,1 triliun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan risiko penurunan kualitas kredit.
Di tengah pandemi ini, BCA tetap mencatat pertumbuhan positif laba sebelum pajak sebesar 13,5 persen yoy menjadi Rp33,8 triliun. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan dana giro dan tabungan.
Pada akhir September 2020, total kredit BCA sebesar Rp581,9 triliun atau turun 0,6 persen secara yoy. Kredit korporasi tercatat sebesar Rp252 triliun atau 8,6 persen yoy. Sementara itu, kredit komersial dan UKM turun 4,9 persen menjadi Rp182,7 triliun.
Pada portofolio kredit konsumer, KPR turun 3,1 persen YoY menjadi Rp89,3 triliun dan KKB turun 19,3 persen YoY menjadi Rp38,6 triliun. Saldo outstanding kartu kredit turun 18,5 persen YoY menjadi Rp10,9 triliun. Total portofolio kredit konsumer turun 9,4 persen YoY menjadi Rp141,7 triliun.
Dari total portofolio kredit, sekitar 20 persen atau Rp114 triliun merupakan portofolio kredit keuangan berkelanjutan dalam rangka mendukung impelementasi ESG (Enviromental, Social, and Governance) dan komunitas UKM.
Dari sisi pendanaan, CASA tumbuh 16,1 persen yoy menjadi Rp596,6 triliun. Ini menghasilkan total dana pihak ketiga dengan pertumbuhan 14,3 persen menjadi Rp780,7 triliun. Deposito berjangka meningkat 8,8 persen secara yoy menjadi Rp184,1 triliun.
“ Aset menembus Rp1.003,6 triliun atau meningkat 12,3 persen secara yoy. Ini didukung oleh CASA,” kata Jahja.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya