7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Dream - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai melambatnya pertumbuhan ekonomi kuartal I Tahun 2015 lebih disebabkan rendahnya belanja pemerintah baik pusat dan daerah yang memberikan dampak konsumsi masyarakat.
Ketua Umum BPH HIPMI Bahlil Lahadalia mengingatkan, bahwa perekonomian nasional masih sangat tergantung pada sektor konsumsi. Sektor ini pun sangat bergantung pada belanja pemerintah.
“ Para menteri lupa bahwa sebesar konsumsi itu dapat mendorong 5% pertumbuhan ekonomi. Tapi ini yang direm, konsumsi,” ungkap Bahlil dalam keterangan pers yang dikutip, Rabu, 6 Mei 2015.
Bahlil menambahkan sektor ini masih perlu digenjot untuk menyelamatkan perekonomian mengingat industri dan manufaktur masih sangat lemah. “ Industri kita masih lemah, belum sanggup menopang perekonomian lebih kuat,” imbuh dia.
Pelemahan ekonomi ini ditandai dengan produksi pangan menurun akibat mundurnya periode tanam. Produksi minyak mentah dan batu bara mengalami kontraksi sehingga industri kilang minyak juga tumbuh negatif.
Tak hanya itu, distribusi perdagangan melambat, karena menurunnya suplai barang impor serta kinerja konstruksi melambat terkait dengan terlambatnya realisasi belanja infrastruktur.
Dari sisi pengeluaran, semua komponen pengeluaran rumah tangga melambat, kecuali untuk makanan dan minuman, tembakau, serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga.
Pengeluaran konsumsi pemerintah juga ikut melambat, karena pertumbuhan belanja barang melambat. Realisasi belanja modal pemerintah lebih rendah Impor barang modal turun, terutama barang modal jenis alat angkutan dan mesin. Industri mesin domestik juga turun.
Untuk itu, lanjut Bahlil, pemerintah jangan terlalu sibuk dengan efisiensi dan penghematan anggaran. Namun, harus menekankan pada percepatan realisasi anggaran.
Caranya, dengan mempercepat tender 4.000 paket proyek yang masih tersisa. HIPMI, lanjut Bahlil, mengusulkan agar jadwal tender tahun depan agar dimajukan lebih cepat.
" Tujuannya, agar pas Januari 2016, proyek sudah mulai. Tender sudah selesai. Jangan sampai seperti sekarang, sudah mau satu semester masih banyak tender yang belum dieksekusi,” tandas Bahlil.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?