Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://merdeka.com)
Dream - Indeks acuan saham syariah tak mampu mempertahankan laju positifnya di pasar modal Indonesia. Pelemahan ini terjadi di saat bursa saham Indonesia sanggup menembus zona hijau di menit-menit terakhir perdagangan.
Sentimen turunnya harga semen yang dipicu akhir pekan lalu tampaknya masih menghantui pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 19 Januari 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpeleset 0,103 poin (0,06%) ke level 165,976. Pada penutupan akhir pekan lalu ISSI sempat juga melemah dan bertengger di 166,079.
Tanda-tanda terkoreksinya indeks acuan berisi lebih dari 300 saham syariah ini memang sudah tercium sejak awal perdagangan. Meski dibuka menguat 0,188 poin ke level 166,267, ISSI tak mampu berbuat banyak di awal transaksi.
ISSI justru dilanda tekanan dan jatuh ke zona merah. Sepanjang perdagangan hari ini, ISSI bahkan jatuh ke level terendah di 165,26.
Pelemahan ini didorong turunnya harga saham dari 93 emiten syariah dan 54 lainnya yang melaju stagnan. Beruntung masih ada 89 emiten penghuni ISSI yang bisa menahan pelemahan lebih dalam.
Pelaku pasar masih cukup hati-hati dengan sentimen yang muncul di pasar. Akibatnya, aksi jual beli saham syariah awal pekan ini hanya menciptakan perpindahantangan 34,21 miliar saham senilai Rp 4,13 triliun.
Penutupan di zona merah juga menimpa indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII). Sore ini, JII ditutup melemah 0,050 poi (0,01%) ke level 681,63.
Sama dengan ISSI, indeks JII juga sempat masuk zona hijau dan menembus level tertinggi 684,44. JII pagi ini mengawali perdagangan di level positif 682,89.
Emiten UNVR mencetak kenaikan harga tertinggi Rp 500 ke level 34.000 per saham. Top Gainer lainnya adalah ICBP yang naik Rp 350, ASII Rp 125, dan BMTR Rp 125 per saham.
Berbeda dengan dua indeks saham syariah yang melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terselamatkan aksi beli pelaku pasar jelang penutupan perdagangan.
IHSG ditutup naik tipis 3,714 poin (0,07%) ke level 5.152,093. Kenaikan disokong menguatnya harga saham dari 144 emiten. Sisanya, 150 emiten bergerak melemah dan 100 lainnya stagnan.
Lantai bursa awal pekan ini diguyur dana hingga Rp 5,61 triliun dari aksi jual beli terhadap 61,59 miliar saham. Investor asing semakin agresif menarik dananya dari pasar modal Indonesia. Nett sell asing tercatat meningkat menjadi Rp 705 miliar.
Meski didominasi indeks sektor saham yang menguat, turunnya indeks sektor industri dasar hingga 2,33 persen cukup membuat pasar saham melaju loyo. Ditambah lagi dengan melemahnya indeks sektor infrastruktur sebesar 0,97 persen dan pertanian 0,59 persen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya