Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
IHSG
Dream - Mengawali perdagangan usai libur panjang Lebaran, bursa saham Indonsia dibuka melemah. Pelemahan terjadi di tengah menguatnya sebagian besar bursa saham regional.
Sentimen data-data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) membuat pelaku pasar tampaknya memilih posisi menunggu.
Di sisi lain, pemodal asing justru gencar berburu saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga saat ini, asing membukukan nett buy hingga Rp 649,71 miliar.
Pada pra pembukaan perdagangan BEI, Senin, 4 Agustus 2013, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 12,57 poin (0,25%) ke level 5.076,22. Pelemahan IHSG bahkan masih berlanjut hingga sesi pembukaan.
Data hingga pukul 09.33 WIB, pelemahan IHSG sedikit berkurang setelah hanya terkoreksi 4,5 poin (0,09%) ke level 5.083,29. Sebanyak 131 emiten bergerak di zona merah sedangkan nilai transaksi BEI pagi ini mencapai Rp 2,37 triliun.
Pembukaan di zona merah juga dialami dua indeks saham syariah di BEI. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dibuka melemah 0,99 poin (0,6%) ke level 166,34. Tercatat hanya 8 emiten yang bergerak menguat sementara nilai perdagangan mencapai Rp 80,81 miliar.
Berbeda dengan IHSG yang masih berkutat di zona merah, indeks ISSI justru sudah melaju di teritori positif. Indeks ISSI telah menguat 0,25 poin (0,15%) ke level 167,58.
Nilai transaksi perdagangan saham telah mencaai Rp 1,11 triliun dengan 63 efek bergerak menguat.
Hal yang sama terjadi pada indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang dibuka melemah 6,78 poin (0,98%) ke level 683,61. Saat ini indeks JII telah bergerak di zona hijau dengan menguat 1,79 poin (0,25%) ke level 692,12.
Sebanyak 14 emiten unggulan syariah telah melaju di zona positif sementara 14 lainnya mengalami koreksi.
" Selama libur Lebaran kemarin, Indeks dari Bursa di kawasan Asia sebenarnya cenderung menguat di awal minggu. Akan tetapi, Krisis utang yang terjadi di Argentina, telah membuat indeks-indeks utama seperti Hang Seng dan Strait Times terkoreksi di akhir minggu," kata Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo dalam ulasannya.
Satrio menjelaskan, siang ini Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengeluarkan data ekonomi penting seperti neraca perdagangan bulan Juni dan inflasi Juli. " Kedua data ini, sepertinya sentimennya tidak terlalu bagus," katanya.
Neraca perdagangan di Bulan Juni sepertinya bakal defisit meski jumlahnya tidak terlalu besar dengan konsensus defisit sebesar US$ 390 juta. Sementara inflasi Juli konsensusnya juga cukup tinggi 0,89 persen sebagai akibat dari Ramadhan dan Lebaran.
" Selain itu, pembatasan BBM Subsidi yang mulai dilakukan oleh Pemerintah, sepertinya juga turut menyumbang sentimen negatif," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya