Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kecemasan belum menjauh dari para pelaku pasar. Koreksi dalam indeks bursa saham Indonesia akhir pekan lalu masih berlanjut sampai penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 14 November 2016.
Pelaku pasar cemas dengan kemungkinan The Federal Reserves akan mempercepat rencana kenaikan suku bunga acuannya jelang pergantian kepemimpinan Presiden AS di bawah Donald Trump. Sentimen negatif ini juga menyeret kurs rupiah yang melemah cukup dalam.
Pada penutupan perdagangan BEI, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) kembali rontok 3,790 poin (2,20%) ke level 168,596. Koreksi dalam juga dialami indeks bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang turun 17,846 poin (2,55%) ke level 680,926.
Kedua indeks acuan saham syariah ini sama sekali tak bisa keluar dari tekanan jual. Sebaliknya ISSI sempat terjun bebas ke level terendah di 166,310.
Aksi jual asing semakin mencemaskan pemodal lokal. Dari seluruh perdagangan saham di BEI, asing mencatat nett sell hingga Rp 1,96 triliun, sedikit di bawah penutupan akhir pekan lalu.
Langkah asing menarik dananya sementara dari pasar keuangan dunia menyebabkan 168 emiten syariah mengalami koreksi. Hanya tersisa 41 emiten syariah di zona hijau dan 40 lainnya bertahan stagnan.
Saham-saham bluechips syariah yang menjadi motor penggerak indeks syariah juga bertekuk lutut. Hanya ada 2 emiten JII yang bergerak menguat dan 2 lainnya bertahan stagnan. Sisanya, 26 emiten unggulan syariah bertumbangan.
Kabar baik masih menyelimuti pasar saham Indonesia. Tak semua indeks berguguran. Meski hanya satu-satunya, indeks sektor perkebunan berhasil naik 0,73 persen. Sisanya turun tajam dipimpin emiten sektor infrastruktur yang terjun 3,68 persen, keuangan 3,44 persen, dan properti 3,07 persen.
Dua emiten bluechips syariah yang sukses menembus zona hijau tersebut adalah AALI yang menguat Rp 125 dan LSIP Rp 55 persen.
Di daftar top looser saham unggulan syariah bertengger saham-saham seperti UNTR yang terjun Rp 1,050, PTBA Rp 775, SMGR Rp 425, LPPF Rp 350, dan INTP Rp 325 per saham.
Koreksi juga masih dialamin mata uang Indonesia, rupiah. Dana asing yang keluar sementara dari pasar Indonesia membuat rupiah tertekan. Rupiah yang bergerak melemah sepanjang perdagangan, sore ini turun tipis 7 poin (0,05%) menjadi 13.387 per dolar AS. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya