Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Tekanan jual di pasar modal Indonesia semakin menguat. Langkah asing yang melepas sahamnya memicu aksi jual pemodal lokal dan menyeret seluruh indeks saham ke zona merah.
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) sama sekali tak sanggup beranjak dari zona merah.
Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 14 September 2016, indeks ISSI rontok 2,730 poin (1,59%) ke level 169,455.
Koreksi lebih dalam dialami indeks bluechips syariah, JII, yang terjub 14,430 poin (2,00%) ke level 705,662.
Laju dua indeks acuan saham syariah ini memang tak meyakinkan sejak sesi pembukaan perdagangan. Kondisi regional yang bergerak negatif memaksa investor menahan diri melantai di bursa saham.
Sentimen negatif bertambah saat asing justru meningkatkan aksi jual saham dengan nilai hampir mencapai Rp 1 triliun. Pada sesi penutupan, nett asing mencapai Rp 840,96 miliar.
ISSI tercatat terjun ke level terendah di 168,809 dan hanya mampu menguat ke posisi 171,494, atau masih di zona merah.
Transaksi perdagangan saham syariah sedikit berkurang dengan nilai Rp 4,25 triliun. Sebanya 27,5 miliar saham syariah berpindahtangan dengan 148 emiten bergerak ke zona merah.
Pelaku pasar hanya mengoleksi 49 emiten syariah yang ditutup menguat dan 43 lainnya bertahan stagnan.
Indeks sektor sektor industri aneka kali ini menjadi sasaran jual saham dengan melemah 2,48 persen. Disusul barang konsumsi 1,92 persen, dan manufaktur 1,85 persen.
Top losser indeks bluechips syariah dip pertengahan pekan ini dihuni UNTR yang turun Rp 625, UNVR Rp 600, AALI Rp 450, ICBP Rp 400, dan PTBA Rp 275 per saham.
Di jajaran top gainer, lima saham unggulan syariah yang bergerak menguat adalah INTP Rp 225, AKRA Rp 200, WSKT Rp 70, ASRI Rp 16, dan LPKR Rp 5 per saham.
Kondisi serupa terjadi di pasar keuangan. Kurs rupiah sore ini bergerak melemah mengikuti pergerakan mata uang utama dunia. Rupiah terkoreksi 51 poin (0,39%) menjadi 13.203 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya