Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pengamat ekonomi syariah Muhammad Gunawan Yasni menilai perkembangan industri keuangan syariah pada tahun 2015 mendatang masih berjalan stagnan. Pasalnya, dia menilai tidak ada program khusus dari pemerintahan baru untuk pengembangan industri tersebut.
" Saya masih berharap ke Pak JK, tapi sepertinya program yang ada kurang memberikan independensi. Memang ada program kerakyatan tapi selama ini kan rakyat kita sudah menjalankan bisnisnya sendiri-sendiri," ujar Gunawan kepada dream.co.id, Rabu, 24 September 2014.
Menurut Gunawan, perkembangan industri keuangan syariah membutuhkan pemimpin yang idealis dan esensial sehingga bisa mengeluarkan kebijakan yang mendukung industri syariah tanpa mau disetir pihak-pihak lain atau takut dengan pendapat orang.
" Sebenarnya gampang saja kalau ada pemimpin yang idealis dan esensial. Jadi tidak artifisial dan pragmatis yang tidak berani mengeluarkan kebijakan pro syariah karena takut dengan perkataan orang, atau mau ngomong kalau ada yang ngomong juga, semuanya bergantung pada orang," ungkapnya.
" Misalkan, pemimpin yang berani membuat aturan setiap BUMN yang menerbitkan obligasi juga harus menerbitkan sukuk, lalu BUMN harus bersinergi dengan anak perusahaannya yang syariah. Kalau kebijakan ini ada maka perkembangan industri keuangan syariah akan berkembang cepat di Indonesia. Sayangnya, kebijakan tersebut belum pernah terjadi," keluhnya.
Hal ini berbeda dengan pemimpin di Malaysia, tambah Gunawan. Para pemimpin negara dan pihak Bank Malaysia sangat fokus dalam mempromosikan industri keuangan syariah.
" Gubernur Bank Malaysia contohnya, Zeti Akhtar, dia kunjungan ke mana-mana pasti " membawa" produk syariahnya. Di sana mereka berjamaah membangun industri keuangannya jadi bisa cepat besar," ujarnya.
Namun, lanjut Gunawan, masih ada peluang dalam mengembangkan industri keuangan syariah ini di Indonesia. Salah satunya dengan pergerakan individu yang memiliki kekuatan dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) untuk membuat kebijakan yang pro syariah.
" Di OJK kita masih ada Pak Muliaman Hadad, di BI masih ada Pak Halim Alamsyah, ya mudah-mudahan mereka bisa melakukan upaya di akarnya dengan kebijakan pro syariah. Jika tidak maka tahun 2015 ini perkembangan industri syariah masih stagnan," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya