Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seorang Wanita Hendak Membeli Makanan Halal. (Foto: Macaulay.cuny.edu)
Dream – Industri makanan halal masih jauh dari potensi yang bisa diraihnya. Tak hanya itu, industri ini belum menjadi leader untuk industri yang berkualitas dan industri yang menguntungkan.
CEO Halal Food Authority di Inggris, Saqib Mohammed, mengatakan pasar makanan halal berpeluang meningkat menjadi US$5 triliun, sekitar Rp65.161 triliun.
“ Kita hanya bekerja di pengolahanan makanan dan standardisasi. Meskipun demikian, banyak potensi di sektor logistik, ritel, transportasi, menu restoran, dan industri makanan lainnya,” kata Saqib dalam acara “ Global Islamic Economy Summit” di Dubai, Uni Emirat Arab dilansir dari Saudi Gazette, Jumat 13 Oktober 2016.
Saat ini, dia mengatakan, Muslim di seluruh dunia telah membelanjakan uang sebesar US$1,1 triliun (Rp14.335 triliun) per tahun dan makanan halal hanya 17 persen. Diprediksi pula makanan yang dikonsumsi senilai US$450 miliar (Rp5.864 triliun) yang telah disertifikasi.
Bagaimana pun juga negara yang mayoritas penduduknya adalah orang Islam ini sangat bergantung kepada impor produk makanan. Negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengimpor 50 persen produk tanaman, 32 persen makanan olahan, dan 18,5 persen produk hewan.
Managing Director Dinar Standard di Uni Emirat Arab, Rafiquddin Shikor, mengatakan ada peluang yang lebih besar lagi daripada membuat sertifikasi halal, yaitu membuat nilai tambah untuk makanan halal.
“ Halal berkaitan dengan kata ‘thayib’, tapi tidak selesai sampai di sini. Ada tren global tentang produk yang sehat dan aman. Ketika mendapatkan sertifikat dasar, kita bisa meningkatkan standar halal dan thayib. Kita masih jauh,” kata Rafiquddin.
Lantas apa? Dia mencontohkan menu makanan halal di restoran masih absen di negara yang mayoritas penduduknya Muslim dan di dunia.
“ Inovasi produk itu penting,” kata Rafiquddin.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya