Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Ilustrasi.
Dream – Otoritas perdagangan dan industri China mengungkap sepertiga barang-barang yang dijual secara online di Tiongkok itu kualitasnya sangat buruk. Otoritas tersebut juga menyebut barang-barang itu dijual di e-commerce terkenal seperti Taobao dan Amazon China.
Dilansir dari Shanghaiist, Kamis 13 Oktober 2016, sebuah kajian yang dirilis oleh China’s Administration of Industry and Commerce menyebut ada 34,6 persen barang dagangan di platform e-commerce terkemuka di sana adalah barang “ substandard” alias barang KW.
Dari 503 tumpuk barang yang diteliti dari raksasa e-commerce Negeri Panda seperti Amazon China, Taobao, dan JD.com, ada 497 barangnya bisa digunakan dan 172 sisanya bermasalah. Rinciannya, 93 persen barangnya jelek dan 7 persen itu kemasan atau instruksinya patut dipertanyakan.
Kabar baiknya, ada dua tumpuk barang yang disebut produsennya adalah barang palsu.
Sekadar informasi, tahun lalu kajian pemerintah menemukan 40 persen barang online shop di Negeri Tirai Bambu ini palsu atau berkualitas buruk. Karena itu, toko online di sana menyandang predikat untuk penjualan barang palsu atau berkualitas buruk. Misalnya, seseorang akan mendapat Pear Phone ketika memesan ponsel iPhone.
Lalu, apakah barang berkualitas KW ini selamanya buruk? Tidak. Hal ini diungkapkan oleh bos Alibaba Group, Jack Ma. Miliarder China ini menyebut barang tiruan terkadang punya kualitas yang lebih tinggi tapi harganya lebih miring daripada aslinya.
“ Masalahnya adalah barang palsu sekarang kualitas dan harganya lebih baik daripada aslinya, tapi namanya sama dengan yang asli. Barang palsu tidak menghancurkan bisnis barang asli. Ini bisnis model baru,” kata Ma.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun