Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bursa saham syariah Indonesia ikut terserang demam koreksi yang melanda pasar modal regional. Dua indeks acuan saham syariah bahkan sama sekali tak beranjak dari zona merah.
Pelaku pasar tampaknya memanfaatkan momentum sinyal negatif regional untuk melakukan aksi ambil untung. Terlihat dari koreksi tajam pada emiten infrastruktur dan komoditas.
Sentimen negatif dari turunnya harga minyak mentah dunia ikut menambah kecemasan pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 23 Maret 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun hingga 0,805 poin (0,51%) ke level 156,413.
Posisi penutupan ini lebih baik mengingat ISSI sempat terjatuh ke posisi terendahnya di level 155,481.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic index (JII), turun lebih tajam. Menutup perdagangan di level 656,988, indeks JII terkoreksi hingga 7,204 poin (1,08%).
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini terbilang besar dengan mencapai angka Rp 7,3 triliun. Sebanyak 69,47 miliar saham berpindah pemilik.
Pemodal asing yang kemarin melakukan aksi jual juga berbalik arah. Asing di pertengahan pekan ini menggelar aksi beli dengan nett buy Rp 331,91 miliar.
Papan perdagangan ISSI sebetulnya didominasi penguatan harga saham. Terbuti 99 emiten syariah menutup perdagangan di zona positif. Jumlah ini lebih banyak dari penghuni ISSI yang terkoreksi sebanyak 91 emiten.
Saham sektor barang konsumsi yang kemarin tertekan justru menjadi incaran investor usai naik 0,98 persen. Indeks sektor emiten lain yang bergerak naik adalah manufaktur 0,59 persen, properti 0,36 persen, dan perdagangan 0,24 persen.
Sementara koreksi tajam dialami emiten infrastruktur yang turun 1,61 persen, pertambangan 0,81 persen, dan pertanian 0,53 persen.
Dengan 18 emiten yang turun ke zona negatif, penghuni top losser JII dihuni oleh SMGR yang naik Rp 75, PTPP Rp 60, SMRA Rp 45, INDF Rp 25, dan SSMS Rp 10 per saham.
Koreksi tajam melanda saham-saham UNVR yang turun Rp 525, INTP Rp 375, AALI Rp 275, AKRA Rp 150, dan ICBP Rp 125 per saham.
Di pasar keuangan, dolar AS sedikit memberi tekakan pada laju rupiah. Melemah tipis 5 poin (0,04%), kurs dolar sore ini bertengger di level Rp 13.190
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya