JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Dream - Bekerja di luar jam kantor atau lembur merupakan masalah di negara sebesar Amerika Serikat.
Seperti dikutip dari Gulf News, Rabu, 20 Mei 2015, setengah dari pekerja penuh waktu melaporkan bekerja 41 jam atau lebih per minggu dan hampir seperlima bekerja 60 jam atau lebih per minggu!
AS adalah salah satu negara langka yang tidak memberikan waktu istirahat bagi pekerja, dan bahkan tidak menawarkan cuti hamil bagi ibu yang akan melahirkan.
Hal itu bukanlah kehidupan yang diinginkan oleh kebanyakan orang Amerika. Sekira 76 persen mengatakan bahwa keluarga didahulukan dari pekerjaan. Menurut survei Allstate/Nasional Journal yang dirilis 2014 lalu. Namun, banyak orang Amerika bersedia berkorban untuk pekerjaan mereka.
Lebih dari seperempat pekerja mengatakan mereka telah kehilangan acara keluarga penting, karena tidak bisa mendapatkan cuti dari tempat mereka bekerja.
Sekitar 15 persen telah bekerja bergantian shift dengan pasangan mereka agar bisa merawat anak mereka, dan 14 persen mengatakan mereka telah 'dihukum' karena mengambil cuti sakit atau merawat anggota keluarga.
Lebih sebagai peringatan bagi perusahaan yang menerapkan jam kerja berjam-jam, bahwa pola seperti itu akan mengikis kesehatan dan produktivitas pekerja.
Sebuah analisis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit tahun 2004 menemukan bahwa lembur dikaitkan dengan kesehatan yang lebih buruk, menaikkan tingkat cedera, penyakit, atau bahkan kematian.
Analisis tersebut menemukan bukti adanya penurunan kognitif setelah karyawan bekerja ‘hanya’ sembilan jam dalam satu hari.
Dan sebuah studi tahun 2014 Stanford menemukan bahwa setelah sekitar bekerja selama 55 jam dalam satu minggu, peningkatan produktivitas berhenti sepenuhnya.
Sebagian besar start-up gagal. Menurut Shikhar Ghosh, seorang dosen senior di Harvard Business School, dari sekian banyak top eksekutif yang berhasil di luar sana, sekitar 19 lebih yang bekerja terlalu kera justru menyebabkan visinya gagal berjalan dengan baik. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun