Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pernah Merasa Uangmu Tahu-tahu Habis? (Foto: Shutterstock)
Dream – Pernah merasa uang lebih cepat habis? Pernah mendengarkan istilah latte factor? Bisa jadi itu penyebab uangmu tiba-tiba menguap tanpa disadari.
Dikutip dari keterangan tertulis Sequis yang diterima Dream, Jumat 18 Oktober 2019, penulis buku Finish Rich sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat, David Bach, mencetuskan istilah latte factor.
Istilah ini berarti mengkritik kebiasaan masyarakat di kota besar, yang kerap menghabiskan waktu dan uang untuk menyeruput kopi di kafe atau restoran.
Istilah ini tak hanya berlaku bagi kopi, tetapi juga pengeluaran-pengeluaran kecil lainnya. Misalnya, membeli air minum kemasan, menyetok camilan, dan belanja online. Ada juga pengeluaran untuk nonton bioskop.
Tapi, kok, bisa besar?
Biasanya orang tidak menyadari berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk faktor yang satu ini. Malah tak terlalu dipikirkan karena termasuk receh, karena memiliki penghasilan besar dan tak punya tanggungan.
Tapi ingat, kalau dihitung-hitung lagi, total pengeluaran receh ini bisa sangat besar.
Misalnya, kamu merogoh kocek Rp18 ribu untuk membeli kopi kekinian sehari dua kali karena ukurannya keci.
Maka, sehari kamu bisa merogoh kocek Rp36 ribu. Jika ditambah dengan extra shot seharga Rp5 ribu, total uang yang dikeluarkan mencapai Rp41 ribu.
Ini belum termasuk “ teman minum kopi”. Misalnya, kamu juga membeli donat dan pisang goreng.
Satu bulatan donat seharga Rp10 ribu dan sepotong pisang goreng Rp8 ribu. Jika ditambah dengan kopi, total uang yang dikeluarkan mencapai Rp57 ribu. Kalau ditambah jasa ojek online, uang yang dirogoh bisa mencapai Rp64 ribu.
![]()
Itu baru kopi dan snack serta belum termasuk transportasi dan makan. Anggaplah kamu naik taksi untuk pulang pergi dan ongkosnya Rp100 ribu dan makan sehari-hari Rp80 ribu. Jadi, total pengeluaran sehari mencapai Rp244 ribu.
Dalam sebulan, uang yang keluar Rp4,88 juta. Angkanya memang tak sama setiap harinya. Jika ditambah dengan cicilan KPR dan lain-lain, uang yang dikeluarkan bisa mencapai Rp10 juta.
Chief Agency Officer Sequis, Franky Nayoan, mengatakan generasi yang peduli akan masa depannya akan melengkapi dirinya dengan asuransi, kemudian investasi.
Usia milenial disebut sebagai usia terbaik untuk membeli uang asuransi. Biayanya terjangkau dan mampu membayar jangka panjang.
“ Jika pengeluaran latte factor dikurangi, tentu bisa bantu milenial mendapatkan hari esok yang lebih baik,” kata Franky di Jakarta.
Dream - Sebelum memutuskan untuk membeli barang, ada baiknya kamu mengetahui barang-barang apa saja yang diperlukan. Sebab, tak semua barang yang kamu ingin beli adalah yang benar-benar dibutuhkan.
Tapi, barang-barang itu justru membuatmu menghamburkan uang. Dikutip dari All Womens Talk, Kamis 4 April 2019, ada delapan barang yang sebenarnya justru membuat dompetmu boros.

Pertama, botol minum. Botol minum adalah sumber pemborosan terbesar. Mungkin kamu berpikir cuma membeli air minum atau vitamin. Tapi, sebenarnya kamu juga membayar merek dan ongkos transportasi.
Kedua, barang bermerek. Barang bermerek biasanya harganya lebih mahal daripada barang biasa.
Daripada beli barang bermerek untuk gaya, lebih baik kamu beli barang yang harganya biasa. Kecuali kalau mau beli barang bermerek agar lebih hemat dan investasi.
Ketiga, perhiasan. Barang ini terbilang mahal untuk menunjukkan kepada orang lain kalau kamu suka perhiasan. Kalau ingin berhemat, ada baiknya kamu mengabaikan diskon perhiasan dan kemilau barang
Keempat, sepatu. Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa membeli sepasang sepatu bukanlah hal yang bisa membuang-buang uang. Belilah sepatu yang kamu butuhkan.
Jika tetap ingin membeli sepatu, lebih baik riset dulu brand mana yang menawarkan kualitas bagus tapi harganya " di tengah-tengah" . Ini akan mencegahmu untuk mengeluarkan banyak uang untuk membeli sepatu.
Kelima, hiburan tingkat dua. Lebih pelit degan hiburan seperti ini bisa membantumu untuk memperbaiki keuangan.
Misalnya, menahan diri untuk tidak menonton film terbaru di bioskop. Kalau kamu memaksakan diri untuk nonton film yang tidak ingin ditonton, sama saja membuang uang, kan?
Keenam, transportasi publik. Ongkos transportasi bisa membuatmu membuang uang lebih banyak, terutama di daerah wisata. Kalau jaraknya singkat, lebih baik kamu menyimpan uangmu dan pergi jalan kaki.
Ketujuh, destinasi wisata. Menghabiskan liburan dengan pergi ke tempat wisata bisa membuatmu boros.
Kedelapan, ritel furnitur. Toko furnitur suka memberikan diskon dan promo. Diskon ini bisa membuatmu tergiur untuk berbelanja di toko ritel bangunan yant harganya tidak sedikit.
Jika ingin membeli furnitur, kamu bisa mengecek di toko furniture yang kecil yang menawarkan harga yang lebih murah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya