6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Dream - Setelah melakukan diskusi panjang dengan beberapa kementerian yang ada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membatalkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan menggantinya menjadi kereta berkecepatan menengah saja.
Dua negara, Jepang dan China, yang sudah adu kuat mengajukan proposalnya untuk proyek kereta cepat itu pun mesti menerima kenyataan pahit itu. Namun, Jepang, salah satu negara pengirim proposal tersebut tak bisa menutupi rasa kecewanya.
" Saya telah menyatakan penyesalan saya karena dua alasan. Tapi keputusan ini sudah dibuat pemerintah Indonesia dan kami menghormatinya karena ini bukan keputusan yang mudah," kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat 4 September 2015.
Ia melanjutkan, akan segera menyampaikan hal tersebut kepada pemerintah pusatnya di Tokyo.
Adapun dua hal yang menjadi kekecewaan utama Jepang adalah masalah finansial serta tawaran teknologi terbaik yang akan dihadirkan.
" Pertama, Jepang sudah menggelontorkan dana cukup besar untuk melakukan studi kelayakan kereta berkecepatan hingga 300 km perjam," tegas Tanizaki. Penelitian tersebut juga tak main-main, sebab sudah dilaksanakan selam tiga tahun bersama para pakar teknologi kereta cepat di Negeri Sakura.
" Kedua, Jepang menawarkan teknologi terbaik, termasuk keamanan untuk proyek ini," tandasnya.
Meski demikian, Tanizaki tetap menyerahkan keputusan secara penuh kepada pemerintah Indonesia. Menurutnya, Jepang pun akan lebih bangga jika dapat menciptakan moda transportasi yang manfaatnya bisa dirasakan betul oleh masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, Tanizaki menegaskan, pembatalan proyek ini tidak akan berimbas pada hubungan bilateral kedua negara.
" Hubungan bilateral kami akan tetap kuat dan stabil karena Indonesia dan Jepang adalah mitra strategis," pungkas Tanizaki.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
