Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Belakangan Ini, Rupiah Menunjukkan Tren Positif.
Dream – Beberapa hari ini, kinerja rupiah menunjukkan tren positif. Rupiah menguat terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Bahkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah keluar dari kisaran Rp13 ribu.
Dilansir dari laman resmi Bank Indonesia, kurs tengah rupiah hari ini, Rabu 28 September 2016, sebesar Rp12.926 per dolar AS. Angka itu menguat dibandingkan dengan kurs tengah Selasa, 27 September 2016, yang sebesar Rp13.027 per dolar AS dan Rp13.076 per dolar AS pada Senin 26 September 2016.
Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), menilai penguatan ini terjadi berkat program amnesti pajak yang dicanangkan pemerintah.
“ Karena melihat potensi-potensi tax amnesty cukup baik, rupiah menguat,” kata JK di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com.
Dia mengatakan program amnesti pajak juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik. Dikatakan bahwa salah satu indikator pertumbuhan ekonomi adalah penguatan rupiah.
Bukan semata karena tax amnesty.
© Dream
Sementara, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan penguatan rupiah tak hanya disebabkan oleh program pengampunan pajak, tetapi juga faktor eksternal. Aliran modal masuk (capital inflow) dan kondisi ekonomi di Amerika Serikat memberi dampak positif bagi rupiah.
“ Itulah mengapa mata uang rupiah kita mengalami penguatan,” kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa 27 September 2016.
Penguatan rupiah ini memberikan sisi yang positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Untuk sisi positif, penguatan rupiah akan membuat inflasi menjadi stabil karena pertumbuhan impor menjadi rendah dan masyarakat bisa menikmatinya.
Namun, penguatan rupiah ini akan berpengaruh terhadap penerimaan negara, khususnya penerimaan dari ekspor dan sumber daya alam (SDA). “ Dari sisi APBN, tentu ada implikasinya terhadap penerimaan (negara),” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya