Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Korea Selatan (photo.sf.co.ua)
Dream - Setelah Hong Kong dan Singapura, negara-negara Asia kini mulai banyak yang melirik keuangan syariah. Negara Asia terakhir yang menyatakan minatnya adalah Korea Selatan.
Negara yang memiliki kemampuan teknologi terbaik di Asia ini baru saja menjadi tuan rumah konferensi Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) 2014 .
Konferensi yang dihadiri 300 pemimpin industri dari 19 negara ini fokus untuk memulai pencapaian baru di bidang penguatan sektor ekonomi syariah yang menjadi kepentingan bersama antara negara-negara berpenduduk muslim dan Asia Timur.
Dalam pertemuan tersebut, para peserta konferensi menilai perlunya reformasi kebijakan pajak dan pemerintah Korsel untuk membuka jalan bagi keuangan syariah mendapat tempat di negaranya.
Ketua WIEF Tun Musa Hitam seperti dikutip Dream dari laman nst.com.my, Rabu, 17 Desember 2014 mengatakan pertumbuhan yang luar biasa dari keuangan syariah dan industri halal kini tak bisa lagi diacuhkan negara-negara di dunia. Kedua sektor ini telah mengelola aset hingga mencapai US$ 1,6 triliun untuk sektor keuangan syariah dan US$ 2,3 triliun untuk sektor industri halal.
Musa menegaskan, pertemuan WIEF kali ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan muslim Korea tetapi juga wisatawan dan pebisnis muslim yang masuk ke negara ini setiap tahun. Di samping untuk memenuhi potensi perdagangan yang sangat besar dan investasi di produk-produk terkait.
" Saya yakin bahwa Republik Korea, yang didukung infrastruktur keuangan yang solid dan industri pangan yang kuat, siap untuk menjadi pemain yang kuat di bidang keuangan syariah dan industri halal," tambah Musa.
CEO CIMB Islamic Bank Badlishah Abdul Ghani menilai kehadiran keuangan syariah bisa benar-benar terasa di Korea Selatan jika negara ini membuat gebrakan terhadap sejumlah isu seperti reformasi pajak dan perubahan peraturan.
“ Kebutuhan perbankan syariah muncul hanya karena ada permintaan untuk keuangan syariah,” kata Abdul Ghani.
" Dari sudut pandang pemerintah, sudah menjadi peran kami untuk memberikan pilihan kepada konsumen dan memberikan solusi keuangan bagi 140.000 muslim di Korea Selatan."
Dia menambahkan bahwa pemerintah atau regulator perlu memperkenalkan perubahan undang-undang atau peraturan yang dapat memberikan fasilitas transaksi keuangan syariah.
Keuangan syariah adalah penghubung antara kaya dan si miskin dengan cara yang konsisten dalam memenuhi semua kebutuhan konsumen terkait solusi keuangan di pasar modal, perbankan dan kegiatan non-bank lainnya seperti takaful, wealth management, dan lain-lain.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya