Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bursa saham syariah bergerak fluktuatif di awal pekan. Kecemasan pada kinerja sejumlah sektor saham mendorong Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) ditutup melemah.
Padahal indeks ISSI dan JII memulai sesi perdagangan dari zona hijau. Investor asing juga meningkatkan porsi belanja sahamnya.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 7 Maret 2016, indeks ISSI turun 0,604 poin (0,39%) ke level 153,838. Indeks JII juga terkoreksi 3,964 poin (0,61%) ke level 650,558.
Indeks ISSI memulai perdagangan dari teritori positif dengan menguat ke level 154,650. Aksi beli sempat mendorong ISSI ke level tertinggi di 154,953.
Namun mulai munculnya laporan keuangan emiten membuat investor berhati-hati. Saham-saham di sektor komoditas menjadi safe heaven investor.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,35 miliar dengan 37 miliar saham berpindahtangan. Aksi beli saham mendorong 99 emiten syariah menutup perdagangan di zona hijau. Sementara 87 lainnya terserang aksi jual dan 57 emiten ISSI bertahan stagnan.
Papan perdagangan indeks JII juga dilanda tekanan jual. Lebih dari separuh, atau 17 emiten bluechips syariah ditutup melemah. Hanya 12 emiten yang masih diburu investor dan 1 emiten bertahan stagnan.
Emiten sektor pertambangan memimpin laju kenaikan usai meroket 4,13 persen. Diikuti emiten perkebunan 1,82 persen, keuangan 0,50 persen dan properti 0,13 persen.
Sementara koreksi dalam terjadi pada emiten sektor barang konsumsi yang turun 2,19 persen, manufaktur 1,68 persen, dan industri dasar 0,75 persen.
Emiten bluechips syariah pencetak top gainer kali ini dihuni AALI yang naik Rp 675. Diikuti ITMG Rp 400, INCO Rp 160, MIKA Rp 110, dan ADRI Rp 65 per saham.
Sedangkan saham UNVR terkoreksi Rp 1.050 per saham yang membuatnya jadi pemuncak daftar top losser. Penghuni lainya ICBP yang turun Rp 425, LPPF Rp 325, INTP Rp 300, dan UNTR Rp 100 per saham.
Dari pasar keuangan, laju penguatan kurs rupiah seolah tak terhenti. Rupiah bahkan sempat menembus level terkuatnya di bawah 13.000 per dolar AS atau tepatnya 12.995 per dolar AS.
Sore ini, rupiah kembali menguat 51 poin (0,39%) ke level 13.080 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya