Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Kondisi ekonomi yang semakin melemah, membuat hampir semua perusahaan dari berbagai sektor industri merevisi target tahunannya. Begitu pun dengan sektor perbankan syariah.
Bank Muamalat misalnya, tahun ini bank syariah pertama di Indonesia itu harus menurunkan target pertumbuhannya. Hal ini disampaikan Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman di Jakarta, Selasa kemarin.
" Tahun 2014 situasi agak menurun, dan tahun 2015 rupanya jauh lebih menurun. Tekanan ekonomi ini tidak hanya dirasakan Bank Muamalat tapi seluruh industri. Kita mencoba menatap lebih positif, meski harus merevisi rencana kerja di mana target pertumbuhan diturunkan dari 15% menjadi 10%," ungkapnya.
Menurut Endy, tidak ada strategi khusus dalam menghadapi kondisi ekonomi ini. Hanya saja, pihaknya tetap berupaya untuk menciptakan pertumbuhan yang berkesinambungan.
" Tidak ada strategi khusus dalam kondisi ini kecuali lebih berhati-hati karena tidak hanya mendapatkan profit tapi bisa tumbuh dan berkembang," jelasnya.
Endy menyebutkan kinerja Bank Muamalat masih on the track dengan revisi target yang telah diturunkan untuk tahun ini. Meski aset menurun dari Rp 60 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 55 triliun, tetapi bank ini tetap mencetak laba hampir sama dengan pencapaian tahun lalu.
" NPF (non performing financing) bisa kita kendalikan dengan baik sesuai aturan OJK. Pembiayaan menurun dari Rp 42,5 triliun tahun 2014 menjadi Rp 41 triliun. Kita juga melepaskan dana yang tidak perlu sehingga menurunkan cost of fund," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya