Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
OJK Dan Direksi Bank Syariah Berkunjung Ke Saung Ilmu (Humas LAZ Al Azhar Peduli Umat)
Dream - Masyarakat Dusun Baran-Mundu, Kelurahan Puloharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah kini telah berhasil menunjukkan diri sebagai masyarakat mandiri berbasis pertanian organik. Melalui program Desa Gemilang yang digagas Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar Peduli Umat, masyarakat dua dusun tersebut berkarya bersama melalui pengolahan pupuk organik.
Keberhasilan ini membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama para direksi bank syariah tertarik menjadikan dua dusun ini sebagai salah satu percontohan. OJK kini tengah menyusun Green Book Skema Pembiayaan Pertanian Organik.
OJK dan para direksi bank syariah yang tergabung dalam tim penyusunan buku hijau tersebut berkunjung ke Baran-Mundu pada Jumat pekan lalu. Mereka ingin mempelajari mekanisme pelaksanaan program Desa Gemilang yang telah menyejahterakan 35 desa di 11 provinsi.
Baran-Mundu berhasil mengolah pupuk organik padat melalui KUB Rumah Rabuk Umbaran. Hasil produksi pupuk tersebut digunakan sendiri oleh masyarakat sekitar untuk bertanam padi.
Penggunaan pupuk organik tersebut ternyata berdampak cukup besar terhadap peningkatan kualitas maupun kuantitas tanaman padi yang mereka hasilkan. Kini, masyarakat di dua dusun tersebut telah mampu mandiri.
Kemandirian ini lahir dari Saung Ilmu, lembaga lokal yang didampingi oleh seorang Dai Sahabat Masyarakat (Dasamas). Melalui Saung Ilmu ini, masyarakat kerap bertukar pengetahuan dan keterampilan serta berinteraksi bersama untuk mewujudkan keberdayaan.
Melalui saung ini pula muncul sejumlah program peningkatan kesejahteraan berbasis masyarakat. Beberapa program tersebut seperti kelompok ternak, kelompok tani, Tabungan Gemah Ripah (TGR), kelompok rumah rabuk, dan lain-lain.
TGR merupakan model tabungan dengan konsep baru, bukan berupa uang melainkan sayuran. Masyarakat yang memiliki kelebihan sayuran hasil kebun pekarangan dapat menyetorkan ke TGR dan dicatat sebagai saldo.
Tabungan ini sukses meningkatkan saldo finansial masyarakat. Selain itu, perekonomian masyarakat menjadi cukup stabil.
Pada hari yang sama, OJK melalui Kelompok Kerja (Pokja) Pertanian Organik bersama Tim Peneliti Fakultas Pertanian UGM juga menggelar studi banding ke Desa Pelakat, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
(Ism, Sumber: humas LAZ Al Azhar Peduli Umat)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya