Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Selama ini, kaum santri selalu diidentikkan sebagai kelompok pengkaji ilmu agama. Mereka tidak pernah dipandang memiliki kemampuan dalam menggerakkan roda perekonomian.
Padahal, para santri menyimpan potensi begitu besar dalam menopang perekonomian nasional.
Menyadari hal itu, beberapa santri berusaha keras mengubah pandangan masyarakat. Melalui sebuah pelatihan bersama pada 2012, kaum santri secara resmi bergabung dan mendeklarasikan diri dalam Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI).
" Selama ini kan enterpreneurship (kewirausahaan) selalu didominasi kelompok lulusan perguruan tinggi. Padahal mereka tidak punya akar hingga ke bawah," ujar Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HIPSI Muhammad Nur Hayid berbincang dengan Dream, Rabu, 7 Desember 2016.
Hayid mengatakan kaum santri merupakan bagian dari kelompok mayoritas di Indonesia. Mereka punya akses langsung untuk bersentuhan dengan masyarakat. Hal itu merupakan potensi kaum santri yang tidak dimiliki kelompok pengusaha lulusan perguruan tinggi.
" Sayangnya, usaha kaum santri selalu dipotong kelompok tengkulak dan pengepul. Kita diposisikan sebagai konsumen murni, sehingga barang kita tidak bisa sampai ke pengguna langsung," ucap Hayid.
Selanjutnya, kata Hayid, meski sebagai ahli agama, tidak semua santri berkesempatan menjadi pendakwah. Itupun jika orangtuanya seorang pendakwah atau memiliki pesantren. Sementara jumlah santri yang berasal dari keluarga selain pendakwah jauh lebih banyak.
" Sehingga tujuan HIPSI berdiri adalah untuk mencetak santri menjadi pengusaha, karena tidak mungkin semuanya jadi kiai," ucap Hayid.
Sejak berdiri hingga saat ini, HIPSI telah memiliki anggota sebanyak 2.000 pengusaha. Selain itu, organisasi ini juga telah memiliki 18 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan 200 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar seluruh Indonesia.
HIPSI bahkan telah memiliki perwakilan di sejumlah negara baik di Asia, Eropa, dan Australia.
Sebagai organisasi, HIPSI sadar betul kaderisasi merupakan kunci keberlanjutan visi. Tetapi, proses kaderisasi tidak selama berjalan mulus, disebabkan tidak semua santri tertarik menjadi pengusaha.
Menghadapi persoalan itu, HIPSI berusaha keras melahirkan jiwa pengusaha di kalangan santri. Salah satunya menjalin komunikasi dengan para pengelola pesantren agar memasukkan materi kewirausahaan di dalam kurikulumnya.
" Jadi sejak dini santri sudah dikenalkan dengan pentingnya menjadi pengusaha. Kalau jadi santri harus jadi pengusaha," ucap dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya