Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bagi orang tua, memberi contoh lebih efektif daripada memberi arahan kepada anak-anak. Ini berlaku untuk segala hal, termasuk dalam mengelola uang.
Slogan pentingnya menabung yang dijejalkan kepada anak-anak tidak akan bekerja jika orang tua tidak memberikan contoh melalui tindakan.
Anak-anak memang tidak perlu sampai dilibatkan dalam mengurus keuangan rumah tangga. Tetapi memberikan contoh dalam hal mengelola keuangan seperti menabung, belanja barang yang hanya diperlukan, dan membuat keputusan bijak saat dihadapkan pada pilihan adalah lebih efektif.
Seperti dikutip dari GulfNews, Kami, 30 Juli 2015, berikut adalah beberapa konsep agar anak-anak bisa membuat keputusan bijaksana tentang uang mereka.
Keterjangkauan
Mengatakan kepada seorang anak bahwa dia tidak akan mendapatkan barang tertentu karena dia tidak mampu membelinya bukan cara yang produktif. Ganti pembicaraan tentang konsep keterjangkauan. Ada perbedaan antara menginginkan sesuatu dan berusaha mendapatkan sesuatu. Keterjangkauan menempatkan item dalam konteks rumah tangga serta kerangka waktu. Misalnya, sesuatu yang mungkin tidak terjangkau sekarang, tapi dengan menabung kita bisa mendapatkannya nanti.
Dengan membedakan item yang diinginkan tetapi tidak terjangkau dengan item yang tidak diinginkan tapi terjangkau, anak Anda akan belajar bahwa kata tidak dari orang tua memiliki lebih dari satu alasan. Demikian pula, Anda harus dapat menumbuhkan keterampilan pada anak untuk mengendalikan nafsu belanja dengan melalui latihan konsep keterjangkauan.
Nilai uang
Beri penjelasan mengapa kita perlu tahu soal nilai uang. Anda mungkin mengajarkan anak-anak untuk menghabiskan 100 ribu rupiah untuk makanan, bukan pada mainan. Dalam hal ini Anda mengajarkan tentang kebutuhan dasar di atas barang mewah. Demikian pula, Anda mengajarkan anak-anak agar memutuskan untuk membeli mainan bukan karena harganya yang sama atau lebih murah, tetapi pada kualitas mainan, nilai pendidikan, daya tahan, dan sebagainya.
Anda perlu menjelaskan faktor-faktor dasar -seperti kualitas, fungsi dan daya tahan- yang berkontribusi terhadap pembuatan keputusan belanja yang lebih bermanfaat untuk pikiran mereka. Perlu diingat, bahwa Anda harus menghindari membahas nilai dari barang itu sendiri dari perspektif orang dewasa. Dengan kata lain, perspektif Anda tentu berbeda dari anak Anda. Jadi kenalkan anak Anda pada faktor kebutuhan dan fokus pada aspek yang lebih obyektif seperti bagaimana barang tersebut dibuat, apakah itu akan bekerja dengan baik atau tidak, dan sebagainya.
Prioritas
Bahkan anak-anak TK mungkin sudah mulai bisa mengenal prioritas. Jika Anda tahu hanya bisa membeli satu item dengan sejumlah uang tertentu, Anda harus mengajarkan anak-anak untuk menemukan item tersebut. Strategi ini membantu Anda menghindari diskusi di kemudian hari ketika anak-anak dihadapkan pada daftar item yang panjang. Selain itu, anak Anda harus dapat berpikir tentang pilihan yang tersedia dan membuat pengorbanan dan kompromi.
Anda mungkin perlu menemani mereka melalui proses ini untuk sementara waktu. Anda bisa mengajukan pertanyaan seperti apa yang mereka sukai tentang setiap item, apa yang ingin mereka segera miliki dan item apa yang bisa mereka tunda untuk dimiliki. Dengan demikian, Anda telah mengakrabkan mereka dengan bagaimana membuat keputusan sekarang dan nanti.
Selain itu, cara ini akan menghindarkan Anda dari menjadi pembuat keputusan tunggal. Jadi ketika anak-anak memiliki keputusan sendiri, mereka belajar bahwa ada konsekuensi. Misalnya, mendapatkan item yang salah berarti kesempatan untuk item yang lebih baik hilang.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya