Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Rupiah `Korban` Turki dan Argentina?

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 5 September 2018 15:15
Rupiah `Korban` Turki dan Argentina?
Padahal, kondisi domestik masih menguntungkan.

Dream – Pasar keuangan Indonesia turut merasakan ketegangan dari aksi jual besar-besar pelaku pasar di pasar emerging market. Padahal, kondisi ekonomi Indonesia saat ini menguntungkan.

Ekonom DBS Group, Radhika Rao, mengatakan pertumbuhan keuangan Indonesia semester I 2018 sebesar 5,2 persen year on year (yoy). Inflasi consumer price index (CPI) pada Agustus 2018 turun jadi 3,2 persen. Angkanya pun masih berada di target inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5-4,5 persen.

“ Defisit transaksi berjalan fiskal masih sesuai dengan yang dianggarkan yaitu -2,1 persen dari PDB, dimana rasio utang pemerintah terhadap PDB rendah di 28,7 persen pada Desember 2017,” kata Rao dikutip dari keterangan tertulis DBS yang diterima Dream, Rabu 5 September 2018.

Terkait pelemahan rupiah, DBS menilai ada dua rintangan yang dihadapi Indonesia. Pertama, kebutuhan pembiayaan lebih tinggi. Kedua, kepemilikan asing yang cukup besar terhadap obligasi domestik, ditambah dengan utang korporasi dollar yang lebih tinggi.

“ Di dalam lingkungan dollar AS yang kuat, terlihat mata uang (yang) rentan terhadap kelemahan,” kata dia.

1 dari 2 halaman

Sentimen Pasar Harus Ditingkatkan?

Rao mengatakan otoritas di Indonesia telah berusaha menekan penguatan dollar AS di pasar valuta asing dan pasar obligasi.

“ Di tengah penurunan yang lebih luas dalam mata uang regional, langkah-langkah intervensi membantu memperlancar downdraft , tetapi akan menjadi tantangan untuk memutar balik arah saat ini,” kata dia.

Skenario lain dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), lanjut Rao, kemungkinan takkan ditempuh menjelang Pemilihan Presiden 2019. Otoritas akan lebih banyak membuat kebijakan “ bertahan” dan melakukan tindakan administratif untuk menjaga nilai tukar dan defisit transaksi berjalan.

Langkah-langkah untuk memperlancar valas dan risiko suku bunga untuk korporasi juga telah diambil.

 

Grafik pergerakan suku bunga.

 

“ Sampai sekarang, BI (Bank Indonesia) sudah mengurangi transaksi minimum dari hedging swap FX menjadi US$2 juta (Rp29,91 miliar) (sebelumnya US$10 juta (Rp149,57 miliar) dan berencana memperkenalkan OIS rates (overnight indexed swap),” kata dia.

Rao menyarankan otoritas untuk meningkatkan sentimen demi kestabilan kurs rupiah. Saat ini, obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sudah dijual dengan yield lebih dari 8 persen.

“ Secara bersamaan USD/IDR juga menembus Rp14.800,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Kondisi Domestik di Indonesia Tak Ada Kaitannya dengan Turki dan Argentina

Rao menilai pelemahan rupiah terhadap dollar AS sebagian besar dipicu aksi jual akibat faktor psikologis. Pelaku pasar cemas dengan kondisi yang menimpa Turki dan Argentina.

Kekhawatiran ini meluas ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Padahal, kondisi perekonomian dua negara ini sangat sedikit hubungannya dengan kondisi domestik.

“ Pada dasarnya, kami tidak berpikir sell off itu dibenarkan mengingat kurang hubungan yang jelas antara Indonesia dan Turki/Argentina. Namun, jeda untuk suku bunga acuan emerging market kemungkinan akan sulit dipahami dalam waktu dekat. Antara EM contagion, Fed hikes dan perang dagang, mungkin terbukti sulit bagi investor untuk mengambil risiko utang lokal pada saat ini,” kata dia.
 

Beri Komentar