Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Meski menyandang sebagai negara kedua, perilaku konsumen di pasar negara berkembang justru lebih baik dibandingkan negara kaya. Bahkan konsumen di negara ini cenderung memilih produk berdasarkan pada etika.
Survei terbaru Ethical Shopping Survey 2015 yang dikeluarkan Mastercard menunjukan lebih dari 70 persen konsumen dari Indonesia, China, Malaysia, Thailand, India dan Filipina mengaku hanya membeli produk yang diperdagangkan secara adil, ramah lingkungan atau memberi manfaat pada orang lain saat berbelanja.
Angka ini jauh lebih baik dibandingkan konsumen di Australia (di bawah 30 persen), Selandia Baru (34 persen) Hong Kong dan Korea Selatan (38 persen) serta Jepang (39 persen).
Dalam pertimbangan membeli sebuah produk, konsumen di negara berkembang memprioritaskan tanggung jawab pedagang atau produsen lingkungan sekitarnya.
" Pertumbuhan ekonomi cepat yang dialami pasar negara berkembang sering dirasakan sebagai hal yang tidak direncanakan dan mengganggu, yang menyebabkan peningkatan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap lingkungan setempat dan masyarakat," kata Georgette Tan, kepala kelompok komunikasi Asia Pasifik dari MasterCard sepert dikutip Dream dari laman CNBC, Minggu, 5 April 2015.
MasterCard menilai faktor inilah yang menjadi alasan utama konsumen di pasar negara berkembang jauh lebih bijaksana dalam memilih produk, merek dan pedagang yang bertindak secara etis dan bertanggung jawab secara sosial.
Faktor lain bisa jadi karena pasar negara berkembang adalah tempat pasokan dimulai. Konsumen di negara-negara berkembang hanya mendukung produk dan pedagang yang memberikan timbal balik kepada masyarakat setempat.
“ Sementara konsumen di negara maju kurang begitu peduli pada dampak kemerosotan lingkungan dan masalah sosial. Jadi isu-isu etika kurang menonjol,” kata Tan.
Selain itu, generasi konsumen sekarang di pasar negara-negara maju sepertinya akan hilang dari proses rantai pasokan.
Hasil survei MasterCard ini didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 7.000 konsumen yang berusia 18-64 tahun di seluruh wilayah yang menjadi tempat survei. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya