Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Dream – Di dunia penerbangan, ada saja maskapai yang meminta penderita obesitas untuk membeli lebih dari satu tiket di penerbangan komersial. Tujuannya agar kenyamanan penumpang tetap terjaga.
Lalu, bagaimana jika ada satu orang dalam penerbangan internasional yang mengambil alih penagihan itu, ketika operator tidak melakukan pekerjaan mereka yang satu itu?
Dikutip dari Auto Evolution, Minggu 9 Maret 2019, ada seorang warganet di situs sosial populer Reddit —nama anonim—, yang bertanya kepada warganet tentang meminta bayaran US$150 kepada penderita obesitas yang duduk di sebelahnya, apakah pantas atau tidak.
Warganet ini hendak terbang ke suatu tempat dengan penerbangan selama lima jam. Cerita ini bermula ketika yang bersangkutan hendak terbang.
Dia memesan kursi dekat lorong. Di barisan ini, hanya ada dua kursi. Tempat ini dipilih agar merasa nyaman untuk terbang selama 5 jam.
Sayangnya, tak disebutkan nama maskapai dan rute penerbangan yang ditempuh.
Lalu, ada seorang pria gemuk yang berjalan di pesawat dan menuju ke arah warganet ini. Ternyata, pria gemuk yang disebutnya penderita obesitas ini duduk di kursi yang di sampingnya ada kursi jendela.
Warganet itu bangkit dan mempersilakan orang ini masuk.
Ternyata, `tetangganya` ini makan tempat. Dikatakan penumpang ini juga “ makan” kursi di sampingnya. Karena harus terbang lima jam, warganet memanggil pramugari untuk memindahkan sang pria.
Pramugari datang memberi tahu pria gemuk. Kalau penumpang lain tak membiarkannya berbagi tempat duduk, dia harus turun dari pesawat.
“ Pria itu tampak malu dan tak mau bangun. Dia menyebutkan tak bisa menunggu penerbangan nanti,” kata warganet.
Dia juga merasakan dilema. Warganet ini kasihan, tapi, juga memikirkan kenyamanan penerbangan dalam waktu yang lama. Akhirnya, warganet ini memberikan opsi win win solution kepada pria gemuk.
“ Saya akan tahan ini kalau kamu memberikan uang US$150 (Rp2,15 juta). Itu setengah dari biaya penerbangan,” kata dia.
Warganet ini berpendapat bahwa uang yang diminta adalah kompensasi atas ketidaknyamanan dalam penerbangan. Pria gemuk ini sepakat dan memberikan uang tunai.
“ Dia langsung setuju, lalu mengeluarkan uang tunai dan membayar saya. Dikatakan bahwa saya menghargainya,” kata warganet.
Sikap pengunggah ini menimbulkan reaksi dari penumpang lainnya. Beberapa penumpang berbisik-bisik dan melihat ke arahnya.
Pertanyaan ini menjadi perbincangan warganet. Banyak komentar menyebut si pengunggah itu memeras pria gemuk dengan meminta kompensasi.
Bahkan, cara ini juga dianggap sebagai tindakan penghinaan di depan umum.
Tapi, tak sedikit juga yang menyalahkan pria gemuk karena tidak membeli dua tiket sejak awal. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya