Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Ilustrasi
Dream - Perusahaan pangan dunia mengaku merasa dirugikan dengan tidak adanya keseragaman standar halal di seluruh dunia. Padahal mereka telah berencana menanamkan investasi mereka sebesar US$ 1 triliun untuk pasar halal.
" Tidak baik memiliki banyak standard yang berbeda, karena itu membingungkan, " ujar Kepala Eksekutif Halal Industry Development Corporation, sebuah lembaga pemerintah Malaysia, Jamil Bidin, seperti yang dikutip dari On Islam, Selasa 17 Juni 2014.
Selama beberapa tahun terakhir, rencana pembuatan standardisasi halal secara global sudah didengungkan. Hal itu guna meningkatkan sektor industri makanan halal.
Tidak adanya standar halal secara global membuat beban biaya produksi perusahaan makanan semakin tinggi. Ini karena perusahaan harus menyesuaikan standar halal di masing-masing negara. Perusahaan juga harus menghadapi dilema mengenai bahan-bahan yang boleh atau tidak digunakan di suatu negara.
Investasi dalam industri makanan halal diperkirakan tumbuh dari US$ 1 triliun pada tahun 2012 menjadi US$ 1,6 triliun tahun 2018. Perbedaan standar halal akan menghambat pertumbuhan industri ini.
Masalah standar ini terjadi pada beberapa waktu lalu, yaitu isu terkandungnya DNA babi pada coklat Cadbury. Namun, setelah itu Cadbury dinyatakan bebas babi oleh lembaga halal Malaysia.
" Kami berharap tidak ada pengulangan insiden semacam itu karena bisa merusak industri halal di Malaysia, khusunya," ujar Ketua Komite Halal Federasi Produsen Malaysia.
Untuk mengakhiri kebingungan dalam standard halal ini, 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), tengah membuat pedoman halal secara global.
" Eksportir berniat mengekspor makanan dan sertifikasi halal yang mereka dapat nanti berlaku untuk semua pasar," ujar Kepala Eksekutif DinarStandard Rafi-udding Shikoh.
Menghadapi ancaman di pasar Malaysia, perusahaan induk Cadbury, Mandelez juga mendukung penerbitan standard global untuk produk-poduk halal.
" Kami menyambut upaya konsistensi dalam sertifikasi halal dan mendukung standard halal global guna menyederhanakan aturan," ujar juru bicara perusahaan Mandelez.
Konsep halal artinya diizinkan secara agama Islam. Untuk makanan ternak, hewan ternak dipotong dengan pisau tajam di leher dan mengucapkan Bismillah. Sekarang konsep halal juga terdapat di pakaian, kosmetik, farmasi, dan jasa keuangan. (Ism)
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?