Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemimpin Negara G20 (http://www.citynews.ca/)
Dream - Sebagian besar anggota kelompok negara-negara besar dunia yang tergabung dalam G-20 sepakat memasukkan isu obligasi syariah (sukuk) dalam agenda pertemuan tahunan. Terobosan ini berpotensi memacu penggunaan sukuk untuk pembiayaan infrastruktur negara.
Data Bank Dunia menyebutkan, negara-negara maju menghabiskan tak kurang US$ 1 triliun untuk infrastruktur setiap tahunnya, Bahkan sampai 2020, ditaksir akan ada tambahan US$ 1 triliun-1,5 triliun untuk pendanaan di berbagai bidang seperti proyek pengairan, energi dan transportasi.
Kebutuhan akan dana itu diharapkan sebagian berasal dari penerbitan sukuk yang merupakan instrumen menonjol di luar pasar inti industri syariah seperti Timur Tengah dan Asia Tenggara. Inggris dan Hong Kong telah menerbitkan debut sukuk mereka tahun lalu.
Beberapa negara Islam memiliki posisi untuk memengaruhi kebijakan ekonomi penting di G-20. Turki memegang tampuk pimpinan G-20 tahun ini, Indonesia menjadi ketua bersama kelompok kerja bidang investasi dan infrastruktur di G-20, dan Malaysia adalah tamu kehormatan G-20 yang mewakili kelompok negara ASEAN.
G-20 telah meminta regulator untuk mempelajari cara-cara memasukkan sukuk dalam kerangka kebijakan moneternya. Lembaga keuangan Dana Moneter Internasional (IMF) juga akan memasukkan sukuk ke dalam pembahasan tentang pembiayaan berbasis aset di masa mendatang.
" Ini akan menjadi kabar bagus bagi pasar sukuk," kata Mohamed Damak, kepala global keuangan syariah di lembaga pemeringkat kredit Standard & Poor di Paris seperti dikutip Dream dari laman Businesstimes.com.sg, Kamis, 19 Maret 2015.
Jika temuan IMF menunjukkan sukuk merupakan instrumen yang cocok untuk pembiayaan infrastruktur, hal ini bakal menjadi kabar baik nagi negara penerbit sukuk. Lebih jauh hal itu akan menarik minat tambahan dari kelompok yang lebih besar dari negara non-tradisional.
Degan sistem agunan berupa aset membuat sukuk ideal untuk pembiayaan infrastruktur dalam beberapa hal. Sejauh ini, pangsa pasar terbesar dari pembiayaan infrastruktur syariah dikuasai oleh Bank Pembangunan Islam (IDB) yang berbasis di Jeddah. IDB adalah badan keuangan syariah multilateral yang mewakili 56 negara Islam.
Pekan lalu, IDB mengatakan akan berkoordinasi dengan Turki, Indonesia dan Arab Saudi, anggota G-20 lainnya, akan memberikan porsi yang lebih besar bagi keuntungan keuangan syariah.
IDB juga sedang dalam pembicaraan kerjasama dengan IMF untuk menyediakan bantuan teknis kepada negara-negara yang ingin mengembangkan layanan keuangan syariah.
Dalam salah satu pembahasannya, G-20 juga membicarakan tentang masuknya Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang didukung oleh Tiongkok.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya