Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Papan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (Antarafoto.com)
Dream - Menguatnya bursa regional dan global menjadi sentimen positif bursa saham syariah domestik yang bergerak menguat sepanjang perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 23 November 2016.
Kenaikan harga komoditas batubara turun menambah daya dorong Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII).
Pada penutupan perdagangan harian BEI, Indeks ISSI menguat 0,916 poin (0,54%) ke level 171,161. Indeks saham bluechips syariah JII juga melonjak 5,786 poin (0,85%) ke level 689,934.
Berbeda dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka melemah, laju positif ISSI justru sudah dimulai sejak awal perdagangan. Dibuka di level 170,413, ISSI mencetak level tertingginya di sesi penutupan.
Transaksi perdagangan saham syariah tercatat mencapai Rp 4,72 triliun dengan 36,47 miliar saham yang berpindahtangan.
Meski menguat, laju indeks di BEI sempat tertekan oleh aksi jual asing yang justru kembali menguat. Asing mencetak nett sell Rp 804 miliar di pasar modal Indonesia.
Ditutup menguat, papan perdagangan ISSI justru didominasi koreksi harga saham dari 101 emiten. ISSI mampu bertahan di zona hijau berkat dukungan 80 emiten syariah dengan 17 diantaranya adalah bluechips syariah.
Laju ISSI di pertengahan pekan ini disokong penguatan emiten sektor komoditas yang melaju signifikan. Sentimen kenaikan harga batu bara mendorong indeks sektor pertambangan yang naik 1,58 persen dan pertanian 1,43 persen. Kenaikan signifikan juga dicetak indeks sektor perdagangan yang menguat 1,11 persen.
Tekanan jual justru melanda saham-saham di sektor keuangan yang melemah 0,28 persen. Begitu pula sektor properti yang terkoreksi 0,25 persen. Sementara sektor infrastruktur dan barang konsumsi hanya melemah 0,04 persen dan 0,03 persen.
Saham pemain retail LPPF memimpin daftar top gainer bluechips syariah usai mengaut Rp 1.250 per saham. Disusul emiten komoditas seperti UNTR yang nak Rp 475, AALI Rp 400, dan PTBA Rp 350 per saham.
Harga saham UNVR juga menjadi buruan investor dengan menguat Rp 650 per saham.
Di jajaran top losser indeks bluechips syariah tercatat tiga emiten pelat merah menghuni daftar lima besar. Tiga emiten itu adalah JSMR yang terkoreksi Rp 40, WIKA Rp 40, dan SMGR Rp 25 per saham. Pemuncak top losser kali ini dihuni SILO yang melemah Rp 125 dan AKRA Rp 75 per saham.
Dari pasar keuangan, kurs rupiah yang bergerak melemah di awal perdagangan, berhasil berbalik menguat. Naik tipis 16 poin (0,16%), rupiah sore ini bertengger di level 13.427 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya