Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi IHSG
Dream - Indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) sanggup menahan laju pelemahan di tengah aksi ambil untung (profit taking) pelaku pasar.
Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup flat dengan melemah tipis di zona merah.
Pada penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Kamis, 13 November 2014, IHSG terpeleset 0,17 poin (0%) ke level 5.048,66. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.052,48 dan terendah di 5.029,62.
Menguatnya harga saham dari 135 emiten tak mampu melawan koreksi dari 155 penghuni IHSG lainnya. Sementara 107 emiten lainnya memilih stagnan dan 283 emiten sama sekali tak diperdagangkan pelaku pasar.
Transaksi kali ini terbilang sepi karena hanya melibatkan 37,22 juta saham senilai Rp 3,44 triliun.
Investor asing kali ini mulai menahan aksi beli saham dengan hanya mencetak nett buy Rp 141 miliar. Jumlah ini sangat jauh dari aksi belanja asing kemarin yang mencetak angka Rp 2,1 triliun.
Saham-saham andalan investor asing di sektor komoditas dan keuangan kini justru menyeret IHSG ke zona merah. Pelemahan terdalam dialami indeks sektor perkebunan yang turun 0,81 persen dan pertambangan 0,67 persen.
Dua indeks saham syariah yang biasanya mengekor IHSG, kini justru mengambil jalan berbeda.
Indeks Saham Syariah indonesia (ISSI) sore ini ditutup menguat 0,14 poin (0,09%) ke level 161,72. Penguatan dipicu kenaikan harga saham dari 93 emiten sementara 95 lainnya masih tertekan aksi jual investor.
Laju ISSI sepanjang hari ini bergerak variatif usai dibuka melemah di level 161.53. Masih adanya aksi beli investr sempat membuat ISSI menyentuh level tertinggi 161,82.
Sebanyak 24,55 juta saham syariah ditransaksikan pelaku pasar dengan perputaran dana mencapai Rp 2,29 triliun.
Hal yang sama dialami saham-saham bluechips syariah. Meski hanya 17 emiten yang menguat, indeks Jakarta Islamic Index (JII) bergerak naik 1,78 poin (0,27%) ke level 665,70.
Indeks JII hanya meninggalkan 9 emiten di zona merah sedangkan 4 lainnya stagnan di posisi penutupan kemarin.
Turunnya IHSG ke zona merah seiring dengan sejumlah indeks saham utama di Asia. Indeks Kospi Korea Selatan tercatat melemah 0,34 persen sementara Shanghai Composite terkoreksi 0,36 persen.
Disisi lain, indeks Nikkei Jepang dan Hang Seng Hong Kong justru bergerak naik 1,14 persen dan 0,34 persen.
Melemahnya sebagian besar indeks saham acuan di BEI juga ikut terpengaruh kembali melemahnya nilai tukar rupiah. Sore ini, rupiah terpangkas 10 poin (0,08%) menjadi 12.200 per dolar AS.
Emiten bluechips syariah penghuni daftar pencetak kenaikan harga tertinggi dihuni oleh INTP yang menguat Rp 500, diikuti UNTR Rp 500, SMGR Rp 125, MPPA Rp 100 dan UNVR Rp 100 per saham. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya