Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Karyawan Yang Frustrasi. (Foto: Startupdaily.net)
Dream – Sebuah riset baru menunjukkan karyawan di Asia tidak bahagia dalam pekerjaannya. Bahkan, angkanya di bawah angka rata-rata dunia.
Dilansir dari CNBC, Selasa 14 Februari 2017, sebuah perusahaan konsultasi sumber daya manusia (SDM), TinyPulse, menunjukkan 28 persen karyawan di Asia bahagia dengan pekerjaannya. Sedangkan di global ada 30 persen.
“ Tidak ada perbedaan yang besar. Itu menunjukkan bahwa mayoritas karyawan, baik di Asia maupun dunia, tidak bahagia dengan pekerjaannya,” kata Communication Manager Tiny Pulse, Ketti Salemme.
Menurut laporan “ 2017 Employee Engagement Report”, perusahaan ini mengumpulkan seribu perusahaan.

Responsnya bervariasi dari pertanyaan. Apakah pekerja bisa membaca visi organisasi, misi perusahaan, dan budaya kerja. Hasilnya, 54 persen karyawan di Asia bisa menanganinya dan angka ini di atas angka rata-rata dunia yang sebesar 32,5 persen.
Tapi, satu hal yang buruk di dunia kerja di Asia adalah masalah komunikasi. Menurut TinyPulse, ada 40 persen karyawan yang memberikan nilai 9-10 untuk komunikasi dengan atasan, lebih rendah 15 persen dari angka global yang sebesar 55 persen.
Artinya, sebagian besar hubungan komunikasi karyawan dengan atasan itu buruk.

Selain itu, faktor hubungan dengan klien atau konsumen juga membuat karyawan merasa tidak bahagia dengan pekerjaannya. Faktor tersebut juga membuat kinerja karyawan menjadi tidak optimal.
“ Kurangnya kunjungan dan interaksi dengan konsumen adalah alasan utama kinerja yang buruk,” berikut adalah salah satu respons dari responden. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya