Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Maskapai Penerbangan
Dream - Israel tahun ini seharusnya menjadi waktu bersejarah bagi bisnis pariwisata Israel. Keputusan pemerintah Isral menyerang Palestina yang tak berdaya telah membatalkan ambisi tersebut.
Dikutip Dream.co.id dari laman ibtimes.com, Kamis, 24 Juli 2014, jumlah pelancong ke Israel tahun lalu mencapai rekor 3,6 juta. Pemerintah berharap pencapaian tahun ini bisa meningkat 15 persen.
Namun angka-angka itu akhirnya hanya menjadi angan-angan belaka setelah munculnya konflik antara Israel dan Hamas pada awal Juli lalu.
Tanda-tanda kehancuran bisnis wisata Israel semakin jelas ketika pengawas US Federal Aviation Administratin (FAA) mengeluarkan larangan terbang bagi maskapai Amerika Serikat, yang akan masuk maupun keluar dari Bandara Ben Gurion.
Larangan ini keluar setelah muncul kabar adanya serangan roket hanya satu mil dari Bandara. Keputusan AS ini menjadi pertanda berakhirnya industri pariwisata Israel.
Industri wisata Israel telah memompa dana US$ 11,6 miliar bagi perekonomian negara tersebut pada 2013, atau 6 persen dari Produk Domestik Bruto.
" Ini merupakan penerimaan luar negeri terbesar bagi Israel," kata Juru Bicara Kementerian Pariwisata Israel, Geoffrey Weill.
Hilangnya pemasukan dari bisnis wisata tentu saja jadi pukulan berat bagi Israel. " Kondisi ini semakin serius," kata Kepala Perwakilan Pariwisata Israel di AS, Haim Gutin.
Sebelumnya, sejumlah maskapai penerbangan internasional dikejutkan dengan jatuhnya pesawat milik Malaysia Airlines akibat ditembak jatuh sebuah roket. Trauma peristiwa tragis itu pula yang memicu maskapai AS seperti Delta dan United menghentikan penerbangan ke Israel.
Selain AS, tujuh maskapai penerbangan dari Eropa diantaranya Lufthansa dan Air France yang merupakan terbesar di Eropa melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Asosiasi Hotel Israel (The Israel Hotel Association) memperkirakan perang yang terjadi akan membuat pemasukan pemilik hotel kehilangan US$ 124 juta.
" Bahkan sebelum serangan darat militer Israel ke Gaza, kami telah melihat turunnya tingkt hunian dan sekarang situasi semakin parah," ujar Presiden IHA, Eli Gonen kepada surat kabar harian Israel Haaretz.
Sejumlah operator jasa wisata juga harus menerima pukulan telak dari keputusan Israel menginvasi Palestina. Iris Hami, pemilik bisnis travel Gil Travel di Philadelphia mengaku 20 persen konsumennya telah membatalkan pesanan paket wisata. Padahal semula, Gil Travel akan memberangkatkan sekitar 30 ribu pelancong ke Israel pada musim panas ini. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya