Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Virus Corona. (Foto: Shutterstock)
Dream - Bank Sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC) berencana memberikan pinjaman senilai 300 miliar yuan (Rp591,26 triliun) untuk membantu mengatasi dampak virus corona ke sejumlah perusahaan. Pinjaman ini akan disaluarkan lewat program re-lending ke sejumlah bank yang memenuhi persyaratan.
Dikutip dari Straits Times, Selasa 11 Februari 2020, PBOC akan mulai program seri pertama pada 10 Februari 2020 dilanjutkan dengan penawaran fasilitas pinjaman ke sejumlah bank akhir bulan ini.
Sebanyak sembilan bank nasional dan beberapa bank lokal di sepuluh provinsi yang memenuhi syarat akan mendapatan pendanaan khusus dari PBOC. Sepuluh provinsi itu termasuk Zhejiang, Guangdong, Beijing, dan Shanghai.
“ Pendanaan ini ditujukan untuk membantu perusahaan di tingkat nasional dan lokal,” kata Wakil Gubernur PBOC, Liu Guoqiang.
PBOC sebelumnya telah mengingatkan agar bantuan pinjaman ini diarahkan pada aktivitas produksi dan bisnis yang terkait dengan program memerangi virus corona. Lembaga keuangan diinstruksikan menawarkan pinjaman dengan suku bunga 100 bps di bawah tingkat bunga suku pinjaman setahun.
“ Bank perlu meninjau dan mengeluarkan pinjaman dengan cepat,” kata Liu.
Pihaknya juga akan melacak penggunaan dana dan menghukum setiap pelanggar.
Langkah ini bertujuan untuk menekan kerugian dari bisnis ritel dan industri akibat virus corona. Pakar memprediksi wabah ini akan memangkas pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama hingga dua persen.
“ Jika terbukti penyebarannya bisa ditahan, Tiongkok menyiratkan dampak negatif,” kata ekonom di Barclays, Christian Keller.
Bank sentral juga tengah mengajukan suntikan dana 1,2 triliun yuan sekitar (Rp2.356,06 triliun ke pasar uang untuk mendukung pemerangan virus. Pendalaman pasar ini bergantung kepada “ kecepatan” penyebaran virus serta sejauh mana kegiatan perekonomian terhenti.
Dream - Pemerintah China berusaha menghidupkan kembali mesin roda ekonomi yang sempat mogok karena wabah virus corona, 2019-nCoV. Namun imbauan tersebut membutuhkan kerja keras karena kalangan pebisnis masih dicekam ketakutan.
Kementerian Dalam Negeri China sebelumnya telah mendesak kalangan industri, seperti aviasi, untuk kembali beroperasi secepat mungkin. Pemerintah provinsi juga telah meminta pebisnis lokal untuk kembali membuka tokonya Senin lalu, atau 10 hari usai perayaan Imlek.
![]()
Banyak kota, terutama di Beijing dan Shanghai, mendorong masyarakatnya untuk bekerja dari rumah. Sementara perusahaan teknologi raksasa China, Alibaba dan Meituan, memperpanjang masa liburan menjadi 16 Februari.
Dalam pernyataannya kepada media Financial Times, manajemen Alibaba menunda operasional perusahaan yang tadinya dimulai hari ini menjadi minimal pekan depan.
Foxconn, kontraktor terbesar China untuk produk Apple, juga belum akan memulai produknya di pabrik iPhone di Zhengzhou, Henan.
Beberapa pegawai di kawasan, termasuk provinsi Heilongjian telah diimbau untuk memperpanjang masa liburan setidaknya dua pekan.
Mewabahnya virus coronan diperkirakan akan memukul ekonomi China tahun ini dari target sebesar 6 persen. Muncul spekulasi kongres nasional China akan menunda pengumuman target pertumbuhan yang semulai dijadwalkan berlangsung Maret mendatang.
Epidemi corona juga diperkirakan akan mendorong China menunda pembelian barang-barang dan komoditas dari Amerika Serikat senilai US$ 200 miliar dalam dua tahun ke depan.
" Jika ada lonjakan orang terjangkit virus ketika masyarakat kembali bekerja, maka kita tahu tengah dalam masalah besar dan harus kembali mundur," kata ian Lipkin, epidemiologist dari Columbia University yang baru pulang dari Beijing dan Guangzhou untuk konsultasi dengan pemerintah China.
(Sah, sumber: FT.com)
Dream - Jian Guolong, pendiri jaringan restoran populer di China, Xi Bei, mengaku hanya punya uang untuk mencukupi kehidupannya selama tiga bulan ke depan. Virus corona yang melumpuhkan sebagian besar China perlahan-lahan membunuh bisnisnya.
Uang tersebut masih sangat kurang. Dia harus membayar uang sewa serta menggaji lebih dari 20 ribu pegawainya. Bisnis restorannya tengah sekarat. Tak ada satupun pelanggan mau datang.
Guolong bukan satu-satunya yang pusing tujuh keliling. Persoalan serupa dihadapi perusahaan korporasi besar.
Cathay Pacific, maskapai penerbangan ternama asal Hong Kong, dibelit masalah yang sama. Perusahaan telah meminta 27 ribu pegawainya untuk libur selama tiga pekan. Cuti tanpa dibayar.
Kondisi ini pernah dialami saat krisi keuangan global menerjang dunia di tahun 2009.
Sementara perusahaan restoran cepat saji, Yum China memperkirakan penjualan dan keuntungan mereka akan negatif di tahun 2020. Mereka telah menutup 30 persen restoran di seluruh China.
Kisah bisnis yang menanti ajal itu hanya sedikit dari banyak cerita pilu akibat wabah virus corona yang mencemaskan dunia.
" Epidemik ini telah menyebabkan penghentian sejumlah pabrik klien," ujar CEO perusahaan startup, Black Lake Technologies, Zhuo Yuxiang dikutip Dream dari laman Forbes, Jumat, 7 Februari 2020.
Menurung Zhou, para klien menahan diri untuk membuat kontrak baru dan proses produk disetop sementara. Kondisi yang membuat bisnis mandeg.
Zhou saat ini memiliki klien dari 300 pemilik pabrik dari bisnis pengelolaan data lewat aplikasinya.
Dampak virus corona yang bermutasi menjadi 2019-nCoV ini diperkirakan bakal lebih parah dari SARS di tahun 2003 lalu. Pemerintah China telah memerintahkan seluruh pengelola mal untuk tutup, bioskop dan pabrik berhenti beroperasi.
Dengan industri manufaktur dan aktivitas bisnis yang terhenti, pertumbuhan PDB China di kuartal I-2020 kemungkinan akan mengkerut menjadi 3,8 persen. Itu setara dengan US$ 62 miliar. Perkiraan ini dikeluarkan ekonom UBS, Wang Tao.
Sejumlah roda bisnis akan terpukul sangat keras dengan wabah virus corona ini. Selain restoran, bisnis katering, hiburan, layanan jasa, retail dan transportasi akan terkena imbas.
" Downsize jika diperlukan, relokasi pabrik jika butuh, atau PHK karyawan jika mendesak," tulis Wang Ran, pendiri persahaan investasi CEC Capital dalam blog terbarunya. " Hanya mereka yang bisa melwati masa ini dapat bertahan dan melihat masa depan."
(Sah, Sumber: Forbes)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya