Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Anak Belajar Makan Sendiri (Foto: Feeding My Kid)
Dream - Makanan atau camilan sering jadi " senjata" andalan para orangtua untuk membujuk atau membuat anak menjadi mudah diatur. Puding, biskuit, cracker, atau es krim, biasanya akan membuat anak jadi luluh dan tenang.
Memberi mereka makanan memang baik, tapi alasan utamanya adalah memenuhi nutrisi dan mencegahnya kelaparan. Bukan untuk menenangkan anak.
Susie Burrell, seorang dokter gizi anak, mengungkap, masalah makan pada anak sering dipicu kebiasaan orangtua yang memberi makan untuk menenangkan dan tanpa pengawasan.
" Memberi makanan untuk balita yang sedang dalam masa pertumbuhan memang baik, tapi jika berlebih akan berdampak pada berat badan, kesehatan gigi, dan kebiasaan makan mereka dalam jangka panjang," ujar Burell.
Untuk kesehatan gigi, makan berlebihan pada balita, terutama makanan manis bisa berdampak buruk. Gigi membutuhkan waktu beberapa jam untuk menetralisir tanpa makanan. Jika terus menerus mengunyah, gigi jadi mudah rapuh. Pemicu lain orangtua membiarkan anak banyak makan tanpa pengawasan adalah " balas dendam"
" Seringkali dijumpai beberapa kasus balita yang sulit makan sehingga saat mereka makan banyak, sang Ibu tidak mempermasalahkannya. Perlu diingat, balita hanya makan secukupnya. Perut mereka relatif kecil sehingga hanya cukup menampung makanan selama 2-3 jam," kata Burell.
Jadi, berapa sering sebaiknya balita makan? Jawabannya, paling banyak enam kali.
Diawali dengan sarapan, makanan ringan, makan siang, cemilan sore, dan kemudian makan malam. Untuk itu, jika mereka makan terus menerus secara tidak teratur dan dalam porsi yang banyak, bisa membawa dampak buruk bagi kesehatannya.
(Sumber: Kid Spot)
Laporan: Nanda Febriani
Baca Juga: Waspada Gejala Pendarahan di Kulit Bayi Dua Langkah Penting Kala Membersihkan Mainan Anak Waspada Gejala Pendarahan di Kulit Bayi Anak Terlihat Sakit, Tetap Sekolah Atau Izin? Kenali Tanda-tanda Anak Terkena Anemia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun