Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi dengan Kendalikan Stres dan Emosi

Reporter : Ferdike Yunuri Nadya
Minggu, 25 Juli 2021 17:01
Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi dengan Kendalikan Stres dan Emosi
Yuk simak cara mengelola stres dan emosi untuk raih ketenangan dan jaga kesehatan mental kamu

Dream - Tidak hanya menghindarkan diri dari paparan virus corona, menjaga kesehatan mental juga tak kalah penting selama pandemi Covid-19.

Maklum, selama pandemi banyak tekanan yang dihadapi. Perekonomian yang lesu dan bertambahnya beban kerja karena sistem work from home membuat mental cepat lelah.

Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap imun, yang sangat penting selama pandemi. Berikut ini cara mengelola stres dan emosi untuk menjaga kesehatan mental.

1. Batasi Berita Negatif

Terkadang banyaknya informasi negatif yang dikonsumsi setiap hari membuat pikiran ikut negatif.

Analisa© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Kalau otak kita terus dipenuhi informasi negatif dan mendengar berita duka setiap hari maka kita mengalami kondisi overload information. Hal ini akan membuat kamu panik dan merespon sebuah berita netral secara negatif,” jelas psikolog Analisa Widyaningrum, pada konferensi virtual, Jumat 23 Juni 2021.

Membatasi diri untuk melihat berita-berita negatif akan membuat Sahabat Dream lebih tenang dalam menanggapi isu-isu Covid-19. Mulailah mencoba alihkan ke aktivitas lain seperti berolahraga, memasak, atau fokus dengan pekerjaan dan tugas-tugas lainnya.

Hal ini tidak hanya mengalihkan pikiran kamu, tapi juga membantu mengatur emosi dan bisa membuat koneksi positif.

1 dari 4 halaman

2. Kendalikan Emosi dan Kepanikan

Kepanikan datang dari persepsi seseorang tentang segala emosi yang membuat takut dan marah. Emosi-emosi ini tersimpan di pikiran bawah sadar dan terkadang muncul begitu saja ketika terpicu.

Namun hal ini bisa dikendalikan loh Sahabat Dream dengan menghirup nafas panjang.

Analisa© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Ternyata otak kita bisa dikendalikan oleh kita. Kalau jantung deg-degan, takut dan panik saat mendengar sebuah berita. Langsung tarik nafas. Hal ini dapat membuat sirkulasi oksigen lebih lancar dan tenang,” tambah Analisa.

Seseorang cenderung bernafas lebih pendek ketika marah maupun cemas. Dengan menghirup nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan artinya sedang mengirim sinyal kepada otak untuk menenangkan diri.

2 dari 4 halaman

3. Quality Time dengan Orang-orang Tersayang

Quality time bersama orang-orang tersayang seperti pasangan, keluarga, atau anak tanpa adanya distraksi dapat mengurangi stres.

Saat quality time, kamu juga bisa curhat atau bertukar pikiran kepada suami dan anak mengenai hal-hal yang mungkin mengganggu pikiran dan membuat stres.


Paragon© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Orangtua boleh mengekspresikan dengan anak untuk menkomunikasikan khawatirnya mereka. Ajak komunikasi terbuka, kalau sedang stres ceritakan ke anak, ajak mereka berkolaborasi agar stres ibu tidak timbul lagi,” tambah Analisa.

Berkomunikasi dengan anak mengenai kondisi kita, sah-sah saja. Hal ini bisa membantu meredakan beban pikiran dan membuat anak mengerti apa yang terjadi pada orangtua agar bisa bekerjasama.

Selain itu mengikuti aktivitas online yang menyenangkan dengan anak juga bisa dilakukan. Sejalan dengan hal ini Paragon Technology and Innovation mengadakan kegiatan #SalingJagaUntukIndonesia. Kegiatan ini untuk mendukung para orangtua dan anak yang berjuang melawan COVID-19 di Wisma Atlet.

" Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat menghadirkan ruang hiburan dan edukasi kepada anak-anak dan juga keluarganya di tengah pandemi ini. Saling jaga sehingga Indonesia dapat pulih lagi" jelas Miftahuddin Amin, EVP dan Chief Administration Officer Paragon Technology and Innovation.

3 dari 4 halaman

4. Me Time

Me time atau menghabiskan quality time bersama diri sendiri terbukti dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan mental dan tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan menjalankan hobi atau kegiatan yang disukai tanpa gangguan orang lain. Hal ini sangat ampuh untuk menurunkan tingkat stres.

Analisa© Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

“ Misal orang tua merasa jenuh langsung lakukan hal yang disenangi, orangtua harus memenuhi kebutuhan dulu sebelum memenuhi kebutuhan anak” tambah Analisa.

Usahakan bertemu anak dalam keadaan yang tenang dan tidak stres atau emosi. Perasaan bahagia orang mtua dapat membuat anak merasa dekat. Kedekatan ini dapat membuat anak tenang dan dapat menjadi salah satu faktor pendukung resiliensi, terutama dalam melewati masa penuh tantangan seperti saat pandemi ini.

4 dari 4 halaman

5. Pastikan Tidur Berkualitas

Stres membuat perasaan cemas dan gelisah, sehingga tidur pun menjadi tidak nyenyak. Karena hal itu upayakan ciptakan perasaan bahagia dan tenang sebelum tidur. Lakukan ‘Me Time’ atau peluk pasangan dan anak sebelum tidur untuk memproduksi hormon Serotonin yang menciptakan ketenangan.

Shutterstock© Shutterstock

“ Perhatikan tidur yang berkualitas, hal ini dapat meningkatkan imun. Jika kita tidur 8 jam sehari, Dopamin akan terbentuk yang membuat perasaan kita bahagia,” tambah Analisa.

Jadwal tidur yang tetap juga akan membantu Sahabat Dream tidur nyenyak. Jangan lupa untuk menciptakan suasana ruang tidur senyaman mungkin agar tidur Anda lebih berkualitas.

Beri Komentar