Kondisi Saat Masturbasi Dianggap Gangguan Seksual

Reporter : Cynthia Amanda Male
Jumat, 6 September 2019 06:36
Kondisi Saat Masturbasi Dianggap Gangguan Seksual
Cari tahu fakta sebenarnya.

Dream - Banyak orang menganggap kalau masturbasi atau onani tidak boleh dilakukan terlalu sering. Namun, ada juga yang mengklaim bahwa hal tersebut memberi manfaat kesehatan.

Bagaimana faktanya? Aktivitas seksual tersebut sebenarnya sangat wajar dilakukan. Terutama bagi pasangan suami istri yang berhubungan jarak jauh. Hal tersebut diungkapkan oleh sexologist, Haekal Anshari.

" Itu normal dilakukan untuk memenuhi hasrat seksual andaikan tidak punya pasangan atau takut berisiko hamil," katanya di saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Rabu 4 September 2019.

1 dari 6 halaman

Dikatakan mengganggu jika..

Sejauh ini belum ada batasan untuk berapa kali melakukan masturbasi. Setiap orang bisa melakukannya kapan saja, asalkan tidak menghambat hubungan seksual dengan pasangan.

 Ilustrasi© Shutterstock

" Masturbasi dikatakan menyebabkan gangguan fungsi seksual kalau hanya dijadikan satu-satunya cara untuk mendapatkan kenikmatan seksual padahal sudah punya pasangan," ujarnya.

2 dari 6 halaman

Bisa jadi Terapi

Jika tidak punya pasangan, sebenarnya masturbasi juga bisa jadi terapi bagi perempuan agar lebih mudah mencapai kepuasan. Namun hal ini sebaiknya diungkapkan kepada pasangan.

" Bisa jadi terapi untuk yang sulit orgasme. Pada saat penetrasi kemudian wanita bisa sambil masturbasi untuk mempermudah mendapatkan kenikmatan atau orgasme. Jadi sebenarnya masturbasi itu bermanfaat kecuali jika mengganggu hubungan seksual dengan pasangan," tutupnya.

 

3 dari 6 halaman

Saraf Bermasalah, Perempuan Ini Bisa Alami Kepuasan Seksual Secara Tiba-Tiba

Dream - Untuk mencapai kepuasan seksual atau orgasme, pasangan suami-istri tentunya membutuhkan stimulasi yang intensif.

Namun hal ini tak berlaku pada Maria (61) seorang janda dari Glasgow, Skotlandia.

Puncak kepuasan seksual bisa didapatkannya kapan saja dan tiba-tiba. Misalnya saat sedang menyetir dan melewati lubang, duduk di pesawat, bahkan ketika menaiki esklator.

4 dari 6 halaman

Maria mengidap PGAD

Maria diidentifikasi mengalami PGAD (Persistent Genital Arousal Disorder). Ia bisa merasakan orgasme kapan pun. Bahkan ketika tidak merasakan hasrat seksual sekalipun.

 PGAD© Shutterstock

" Sembilan puluh persen dari hidup saya telah hancur. Saya kadang benar-benar harus diam agar dapat 'mematikan' kepuasan tersebut," kata Maria, seperti dikutip dari Metro.co.uk.

5 dari 6 halaman

Kehilangan Kepercayaan Diri

Kondisi tersebut tentu membuatnya sangat tidak nyaman. Maria kehilangan kepercayaan diri karena tak bisa mengontrol tubuhnya.

 PGAD© Shutterstock

Ia juga merasa sangat malu, apalagi jika sedang berada tempat umum. Kondisi kesehatan psikologisnya juga jadi bermasalah.

6 dari 6 halaman

Lakukan Banyak Pengobatan

Untuk mengatasi PGAD, Maria melakukan berbagai cara. Ia menggunakan gel, melakukan fisioterapi panggul bahkan melakukan suntikan steroid di organ intim.

Sederet cara tersebut tak berhasil menghentikan PGAD yang dialaminya. Maria curiga masalah PGAD yang dialaminya dipicu karena pemeriksaan ginekologi rutin yang dilakukannya di sebuah rumah sakit di Glasgow pada 2017. Saat itu ia mengalami masalah mengompol yang tak terkendali.

Dokter menyarankan untuk melakukan suntik botoks di area intimnnya tapi ia takut untuk melakukannya. Pemeriksaan pun dilakukan menggunakan spekulum. Setelah itu, bulan berikutnya ia mengalami orgasme tak terkendali.

Setelah mengalami 'serangan kepuasan' beberapa kali, Maria pun memeriksakan diri ke dokter. Diketahui kalau terdapat kerusakan di saraf pudendalnya.

Pengobatan pun dilakukan tapi kunjung berhasil. Ia berencana untuk berobat ke luar negeri tapi pihak dewan kesehatan setempat tak mengeluarkan izin.(Sah)

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya