Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Stunting masih jadi permasalahan serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan melakukan sederet program demi menekan kasus stunting di berbagai daerah. Jika dibiarkan dikhawatirkan bisa mengancam keberlangsungan regenerasi sumber daya manusia berkualitas.
Stunting sendiri merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Tak hanya itu, juga berdampak buruk pada aspek kognitifnya.
Menurut Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, kasus stunting tertinggi di Indonesia terjadi pada 2013. " Di tahun 2013 angkanya mencapai 37,2 persen. Sekitar 4 dari 10 balita mengalami stunting," tuturnya di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memang menunjukan adanya penurunan, yakni 30,8 persen. Namun angka tersebut belum mencapai target yang ditetapkan WHO.
" Sekarang perbandingannya 3:10, sementara WHO minta 2:10. Saya berharap kita tidak ada lagi," ujarnya.
Stunting bukan hanya menyerang fisik anak. Penderita stunting memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata. Termasuk sangat berisiko terkena penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung dan diabetes.
Nila menyebutkan, salah satu faktor penyebab stunting adalah pernikahan usia dini. Yaitu ketika ayah dan ibu menjalani pernikahan di usia yang masih belasan tahun. Belum memiliki cukup ilmu, serta kestabilan emosi dan finansial untuk membesarkan anak
" Stunting banyak ditemukan pada perkawinan usia dini. Fisik dan mental mereka belum cukup untuk menjadi ibu. Pengetahuan mereka mengenai asupan gizi bayi belum luas sehingga risiko stunting jauh lebih besar," ungkap Nila.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya