Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Detik-detik Sebelum Badai Katrina Terjadi (Sumber: Archive.kaskus.co.id)
Dream - Anda masih ingat badai Katrina yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2005 lalu? Ada pula badai-badai serupa lainnya yang memiliki nama-nama indah, seperti Rita, Emily, dan Ophelia.
Mengapa peristiwa alam besar yang berdampak pada kerusakan seperti badai justru memiliki nama-nama indah layaknya seorang wanita? Ingin tahu alasannya?
Pemberian nama badai sebenarnya sudah ada sejak masa lampau. Hal ini dilakukan pertama kali oleh masyarakat Inggris. Kala itu masyarakat Inggris memberi nama badai topan menggunakan kata 'hurricane' yang diambil dari nama Dewa Huracan, yaitu dewa angin besar yang dihormati oleh bangsa Maya dari Amerika Tengah.
Menurut mereka pemberian nama badai penting dilakukan untuk mempermudah para pengamat cuaca berkomunikasi dengan masyarakat. Jika ada dua badai terjadi secara bersamaan di tempat yang berbeda misalnya, masyarakat akan lebih mudah membahas jika keduanya memiliki nama yang berbeda.
Kebiasaan ini pun akhirnya menyebar ke berbagai negara. Pada masa Perang Dunia II, para ahli meteorologi di beberapa negara seperti Amerika Serikat memberi nama badai dengan nama perempuan. Beberapa nama diambil dari nama-nama istri mereka.
Kemudian baru pada tahun 1979, National Weather Service (NWS) di Amerika Serikat resmi memberi nama dengan gabungan nama laki-laki dan perempuan. Saat ini, nama-nama tersebut pun telah diperbaharui oleh World Meteorogical Organization (WMO) atau Badan Meteorologi Dunia. Mereka menggunakan nama-nama yang singkat dan mudah diingat seperti Arlene, Bret, dan Cindy.
Penggunaan nama-nama tersebut akan berulang setiap enam tahun. Namun uniknya, nama-nama itu tidak akan digunakan lagi jika badai yang terjadi memakan banyak korban. Meski begitu penghilangan atau penggantian nama badai di tiap negara harus dilakukan dengan persetujuan WMO.
Selama ini sudah banyak nama badai yang diganti. Contohnya pada tahun 2004, nama badai George dan Matthew diganti Gaston, lalu diganti lagi menjadi Mitch. Adapula badai Keith yang diganti menjadi Kirk pada tahun 2006. Bahkan kabarnya, Katrina juga akan diganti karena badai tersebut telah memakan banyak korban. (Ism, Berbagai sumber)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya