Masjid `Pintu Mekah` di Buton

Reporter : Eko Huda S
Jumat, 2 Mei 2014 14:34
Masjid `Pintu Mekah` di Buton
Ada lubang menganga di depan mihram masjid ini. Konon, terdengar suara azan yang diyakini masyarakat dari Mekah.

Dream - Tak ada kesan mewah pada masjid ini. Bentuk bangunannya terlihat lawas. Cat warna hijau pada atap pun sudah kusam. Tak seperti masjid pada umumnya, masjid ini tak punya menara. Hanya pondasi dengan tinggi sekitar dua meter yang membuatnya masih tampak gagah.

Itulah masjid Masjid Al-Muqarrabin Syafyi Shaful Mu'min. Atau lebih tersohor dengan nama Masjid Agung Wolio. Para ahli yakin masjid yang terletak di Kota Baubau, Pulau Buton, ini adalah masjid tertua di Sulawesi Tenggara.

Masjid ini dibangun pada tahun 1712. Saat itu, Buton dipimpin Sultan Sakiuddin Durul Alam. Masjid yang kini berusia 302 tahun itu berdiri di dalam kompleks keraton Kesultanan Buton. Dulunya, masjid ini menjadi simbol kejayaan Islam di Kesultanan Buton.

Meski terlihat sederhana, konstruksi masjid berukuran 20,6 X 19,4 meter ini cukup unik dan penuh makna. Atap yang terdiri dari dua tingkat merupakan simbol dua alam, yaitu alam sanghir (dunia) dan alam kabir (akhirat). Sementara dinding masjid yang terbuat dari tembok permanen merupakan sombol benteng ketakwaan dan keimanan.

Ada 12 pintu masuk pada masjid ini. Jumlah yang sama dengan pintu yang dibangun pada Benteng Walio yang mengelilingi Kesultanan Buton. Kayu yang digunakan untuk membangun masjid berjumlah 313 potong. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat dalam sehari.

Bedug masjid yang panjangnya 99 sentimeter sama dengan jumlah asmaul husna. Sedangkan diameter bedug 50 sentimeter sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad SAW. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Memang tak ada satu pun menara yang berdiri di sekitar masjid ini. Hanya ada tiang bendera dari kayu di bagian utara masjid. Kayu itu konon dibawa dari Patatani, Thailand. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam. Konon, tiang ini juga dipakai untuk pelaksanaan hukuman gantung sesuai syariat Islam.

Tak hanya konstruksi. Yang menambah unik masjid ini adalah pintu goa yang berada di belakang mihrab. Orang setempat percaya lubang pintu goa bawah tanah itu sebagai pusat bumi. Masyartakat sekitar juga percaya konon terdengar suara azan dari mekah dari dalam goa itu. Sehingga orang sekitar percaya lubang itu merupakan pintu menuju Mekah.

Namun cerita itu dibantah Imam Masjid Agung Wolio, La Ode Ikhwan. Menurut dia, lubang di masjid itu sebenarnya adalah pintu rahasia untuk menyelamatkan Sultan Buton jika diserang musuh.

Di dalam lubang berukuran 2 X 2 meter itu memang ada lima jalan rahasia ke sejumlah tempat di kompleks benteng. Salah satunya tembus ke selatan benteng.

Masjid ini direhabilitasi pada 1930-an. Saat Buton dipimpin Sultan Muhammad Hamidi. Saat itulah pintu goa itu ditutup semen. Sehingga liangnya menjadi kecil. Untuk menghindari kemusyrikan, lubang itu akhirnya ditutup dan di atasnya dibuat tempat imam memimpin salat. (Dari berbagai sumber)

Beri Komentar