Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Masjid Syuhada (duniamasjid.islamic-center.or.id/)
Dream - Salah satu tempat bersejarah di Bengkulu adalah Masjid Syuhada. Masjid ini dulunya adalah bangunan megah rumah sakit milik bangsa Inggris. Memang, dulu kala Bengkulu merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang pemah dijajah Inggris.
Masjid yang terletak di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Gading Cempaka, ini menjadi masjid tertua di Bengkulu. Cikal bakal masjid ini dibangun sekitar 247 tahun silam, atau tepatnya tahun 1767.
Masjid ini dibangun atas prakarsa empat tokoh masyarakat setempat, yaitu Haji Wahid yang dikenal dengan sebutan Haji Tua, Haji Ali, Haji Yanjang, dan Haji Isa. Haji Tua dikenal sebagai orang Bengkulu pertama yang menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Masjid ini kerap dikaitkan dengan Presiden pertama Indonesia, Sukarno. Saat dibuang ke Bengkulu oleh Belanda, Sukarno dan para pejuang kemerdekaan lainnya, sering mengunjungi dan salat berjamaah di masjid sederhana ini.
Di belakang masjid ini, terdapat makam Raja Alam, seorang raja Islam yang terkenal sebagai salah satu penyebar agama Islam pertama di Bumi Raflesia. Raja Alam yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat, dikenal bijaksana dan dicintai rakyatnya.
Masjid ini mencerminkan wajah sederhana kota Bengkulu. Bentuk atap masjid ini cukup unik. Atapnya berbentuk limas tiga susun, khas bangunan masjid di Jawa. Namun di bagian pucuknya terdapat kubah mungil.
Keunikan lain, masjid ini diurus oleh empat suku, yaitu Suku Ujung Tanjung, Suku Tanjung Dalam, Suku Pinang Berlarik, dan Suku Berang. Kepengurusan itu diwariskan secara turun temurun. (Ism, Dari berbagai sumber)