Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bung Tomo (Merdeka)
Dream - Bung Tomo. Dialah salah satu aktor penggerak para pejuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pria bernama asli Sutomo ini sukses membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan tentara Inggris dan NICA-Belanda, yang ingin kembali menduduki Tanah Air setelah kekalahan Jepang.
Pria kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 ini memang dikenal jago orasi. Dan itu telah dia buktikan. Melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI) dia dorong gelora perlawanan pejuang di Surabaya. Allahu Akbar! Merdeka! Itulah pekik keramat yang disisipkan Bung Tomo dalam pidatonya.
Bung Tomo tak sembarangan memilih Takbir dan kata merdeka dalam pidatonya. Kata demi kata dia pilih dengan sangat cermat untuk memompa semangat para pejuang kala itu. Dia sadar siapa lawan para pejuang. Tentara-tentara Eropa itu jelas-jelas dilengkapi senjata modern era itu. Sehingga, dia berusaha membuat bara dalam jiwa setiap pejuang di Surabaya.
Putra Kartawan Tjiptowidjojo ini boleh saja tak lulus MULO. Atau pendidikan setingkat SMP. Namun, analisa psikologis massa Bung Tomo perlu diacungi jempol. Bung Tomo yang kala itu masih berusia 25 tahun tahu betul, para pejuang bukan hanya datang dari Surabaya. Ribuan orang telah datang ke kota itu untuk tujuan yang sama: berjuang mengusir penjajah.
Sadar pula Sutomo yang beribu blasteran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura, itu. Bahwa banyak santri dan ulama yang bergabung dala perjuangan. Sehingga, dia tak ragu memilih Takbir sebagai senjata ampuh. Seruan Bung Tomo kala itu menjadi panggilan suci bagi kaum Muslim di Surabaya dan sekitarnya untuk bahu-membahu menghadapi musuh bangsa.
Sebuah cerita mungkin semakin memperjelas mengapa Bung Tomo memilih pekik Takbir sebagai kata pendobrak dalam pidatonya. Sebelum 10 November itu, ternyata Bung Tomo menemui Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Dia meminta izin membacakan pidato yang merupakan manifestasi Resolusi Jihad yang sebelumnya disepakati oleh para kiai NU.
Memang, sebelumnya Presiden Sukarno mengirim utusan untuk menghadap Kiai Hasyim. Melalui utusan itu Sukarno menanyakan hukum berjuang membela negara. Dan para kiai NU menyatakan berjuang demi negara adalah jihad. Kontan saja, setelah resolusi itu, ribuan santri dan kiai bergerak menuju Surabaya untuk berjuang. Inilah yang dilihat oleh Bung Tomo.
Dan datanglah hari itu. Bung Tomo naik ke atas pangung. Dengan penuh semangat berpidato, membakar semangat para pejuang di Surabaya. Menyeru segenap anak bangsa untuk mempertahankan tanah airnya.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka! Itulah pekik Bung Tomo dalam pidato legendaris di Surabaya. Pidato yang selalu dikenang, bahkan setelah kematiannya di Padang Arafah pada 7 Oktober 1981. (Ism, Dari berbagai sumber)
© Dream
Berikut ini pidato Bung Tomo yang melegenda itu:
Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!!
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya