7 Perbedaan Siginfikan dari Kurban dan Aqiqah, Jangan Sampai Tertukar Ya!

Reporter : Jeffreydien Winanda
Rabu, 21 Juli 2021 18:31
7 Perbedaan Siginfikan dari Kurban dan Aqiqah, Jangan Sampai Tertukar Ya!
Untuk memahami lebih lanjut bagaimana pengertian serta perbedaan kurban dan aqiqah, yuk simak pembahasannya.

Menjelang Hari Raya Idul Adha, seringkali bermunculan pertanyaan tentang perbedaan kurban dan aqiqah. Sebagai umat Islam, tentunya perlu mengetahui perbedaan mendasar dari kedua ibadah tersebut. Untuk memahami lebih lanjut bagaimana pengertian serta perbedaan kurban dan aqiqah, yuk simak pembahasannya.

Apa Pengertian Kurban dan Aqiqah?

Perbedaan Kurban dan Aqiqah© 2021 Dompet Dhuafa

Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan pemahaman mendasar terlebih dahulu. Dalam praktisnya, kurban dan aqiqah memiliki kesamaan yaitu melakukan penyembelihan hewan. Secara hukum, keduanya juga sama-sama sunnah muakkad. Meskipun demikian, beberapa ulama ada yang mengatakan bahwa ibadah kurban hukumnya wajib bagi yang mampu.

Jika dilihat dari arti kata, kurban berasal dari qariba-yaqrabu qurbanan wa wirbanan. Kata ini berarti dekat dan maknanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana yang juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, saat mendapatkan perintah Allah untuk menyembeli anaknya. Namun kemudian Allah SWT memerintahkan untuk diganti dengan domba atau kambing.

Ibadah kurban sendiri juga berkaitan dengan kata “udhiyyah” yang merupakan bentuk jamak dari “dhaniyyah”. Asal katanya adalah "dhaha" serta memiliki arti waktu dhuha. Ini menunjukkan bahwa kurban dilakukan setelah salat Idul Adha pada waktu dhuha.

Penjelasan lebih detailnya, tertuang dalam Al-Quran QS As-Shafaat:102 yang artinya,

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar

Sementara itu, aqiqah secara linguistik memiliki arti memotong. Beberapa ulama menyebutkan bahwa memotong disini memiliki banyak arti. Mulai dari memotong atau menyembelih hewan atau memotong rambut bayi yang baru lahir.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Buraidah berkata, "Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang di antara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi."

Berdasarkan sejarah bisa disimpulkan bahwa aqiqah memiliki makna memotong rambut yang ada di kepala bayi kemudian ditandai dengan pemotongan hewan. Pemotongan hewan tersebut berupa dua kambing untuk anak laki-laki serta satu kambing bagi anak perempuan.

Sehingga bisa disimpulkan jika aqiqah diorientasikan sebagai bentuk syukur, sedangkan kurban merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana dari sejarah kurban Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail As.

Bagaimana Perbedaan Kurban dan Aqiqah?

Jika berdasarkan sejarah dan pengertian saja sudah memiliki perbedaan, maka kedua ibadah ini tentu juga berbeda satu sama lain. Berikut ini perbedaan kurban dan aqiqah yang dilansir dari Dompet Dhuafa.

Jenis Hewan yang Dikurbankan

Berdasarkan Imam Mahdzab, hewan yang diperbolehkan untuk ibadah kurban adalah hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing. Dari segi keutamaan, Imam Malik berpendapat bahwa kambing atau domba yang paling utama. Sementara bagi Imam Syafi'i yang paling utama adalah unta, sapi, dan kambing. Terlepas dari kedua pendapat tersebut tentu saja pahala kurban tidak saja ditentukan dari jenis hewannya melainkan keikhlasan dan kemampuan kita dalam berkurban.

Sedangkan untuk aqiqah, hewan yang disembelih adalah kambing. Berbagai jenis kambing pun boleh disembelih seperti kambing kampung, domba, ataupun gibas. Hal ini diperkuat oleh sebuah hadits,

“(Aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing. Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah” (sesuai dalam kitab al-Majmu’ Saryh muhazzab).

Jumlah Hewan yang Disembelih

Berdasarkan hadits yang disebutkan di atas, maka kambing yang dijadikan hewan untuk aqiqah jumlanya disesuaikan dengan jenis kelamin. Jika anak laki-laki maka dua ekor kambing semetera untuk perempuan adalah satu ekor kambing. Sedangkan untuk jumlah dari hewan kurban Idul Adha, jumlahnya cukup satu ekor kambing/domba. Jika berkurban sapi, maka bisa diatasnamakan untuk 7 orang.

Waktu Penyembelihan

Ibadah kurban hanya dilaksanakan pada tanggal 10-13 Dzulhijjah (hari tasryik). Namun untuk aqiqah, waktunya disarankan pada hari ketujuh kelahiran anak. Adapun hal ini bisa disesuaikan kapanpun berdasarkan kemampuan, sehingga bisa dilaksanakan di lain hari.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Rasulullah SAW pernah beraqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuh dari kelahirannya, beliau memberi nama dan memerintahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)” (HR.Hakim).

Pemberian Daging

Seorang ulama bernama Ibnu Rusyd menyampaikan bahwa ulama bersepakat tentang kepada siapa pemberian daging kurban Idul Adha harus diberikan. Hal ini berdsarkan ayat dalam Al-Quran, “Maka makanlah sebagiannya (daging kurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (QS.Al-Hajj:36)

Sedangkan, untuk daging dari aqiqah boleh diberikan untuk siapapun misalnya kepada tetangga terdekat, keluarga, saudara, ataupun fakir miskin. Tentu saja akan sangat menjadi bermanfaat dan bernilai lebih jika daging bisa diberikan untuk mereka yang membutuhkan.

Wujud Daging yang Diberikan

Daging kurban Idul Adha biasanya diberikan dalam bentuk mentah atau belum diolah menjadi masakan. Hal ini biasanya dilakukan agar penerima daging lebih mudah mengolah sesuai dengan selera atau bisa juga disimpan dalam beberapa waktu ke depan.

Sedangkan untuk daging hasil aqiqah, langsung diberikan dalam bentuk keadaan yang masak dan bisa disantap bersama-sama. Mengingat aqiqah adalah ibadah sunnah atas bentuk rasa syukur kelahiran anak, maka biasanya akan dinikmati bersama-sama dalam bentuk makanan olahan atau menu tertentu sesuai dengan konteks wilayah masing-masing.

Jumlah Pelaksanaan

Dalam Islam, kurban diperintahkan untuk dilaksanakan setiap tahun sekali pada datangnya Hari Raya Idul Adha hingga hari tasyrik selesai. Sedangkan untuk aqiqah, pelaksanaannya cukup sekali dalam seumur hidup. Jika sedari kecil sudah dilakukan aqiqah, maka saat dewasa nanti tidak perlu dilakukan lagi. Sedangkan, jika saat kecil belum aqiqah karena terkendala kemampuan orang tua, maka sang anak bisa melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri saat dewasa nanti.

Upah Penyembelihan

Orang yang menyembelih hewan kurban Idul Adha tidak diberikan upah dan biasanya hanya menerima daging dari hewan yang disembelih. Hal ini berbeda dengan aqiqah di mana sang penyembelih boleh meminta upah pada orang tua atau keluarga yang mengadakan syukuran aqiqah tersebut.

Itulah tujuh perbedaan kurban dan aqiqah yang bisa dipahami serta dipelajari. Kedua ibadah ini memang sama-sama membutuhkan modal berupa harta untuk bisa membeli. Oleh sebab itu, semoga semua umat Islam diberikan kemampuan dan rejeki untuk menunaikannya ya.

Menjalang Idul Adha ini, apakah kamu juga sudah berencana untuk menunaikan ibadah kurban? Yuk, laksanakan kurbanmu di tahun ini bersama Dompet Dhuafa! Klik link Portal Kurban Dompet Dhuafa di sini untuk menunaikan kurbanmu sekarang dengan mudah, cepat, dan luas manfaatnya hingga pelosok Indonesia.

Beri Komentar