Ilustrasi Astronot Di Luar Angkasa. (Foto: Shutterstock)
Dream - Apa yang terjadi jika astronot meninggal di luar angkasa? Ini adalah pertanyaan yang selalu mengganjal di hati ilmuwan NASA selama bertahun-tahun.
Mereka terus memikirkan bagaimana memperlakukan jasad astronot yang meninggal saat menjalankan tugasnya di luar angkasa dengan layak namun praktis.
Tentu saja para ilmuwan berharap jasad astronot bisa segera 'dimakamkan' hingga misi luar angkasa tidak terganggu.
Namun mereka tidak mungkin membiarkan jasad astronot tetap berada di dalam pesawat dan menunggu pulang ke Bumi.
Selain itu, astronot lainnya tidak mungkin mau berada dekat-dekat dengan jenazah yang sudah lama meninggal dunia.
Selain baunya sangat tidak enak, jasad tersebut akan menjadi sarang bakteri. Lagi pula, akan sangat menakutkan bagi para astronot jika tidur berdampingan dengan mayat, bukan?
Mungkin timbul pertanyaan begini di benak Sahabat Dream, " Mengapa tidak membuang jasadnya saja ke luar angkasa seperti yang di film-film itu?" .
Sebenarnya bisa saja meniru yang ada di film-film itu. Tinggal membuka pintu pesawat dan melepaskan jasad ke luar angkasa yang luas seolah tak ada batasnya itu.

Namun, tindakan ini terkendala dengan aturan masalah sampah luar angkasa dan potensinya bertabrakan dengan pesawat luar angkasa lain yang mengorbit.
Aturan ini bahkan sudah ditetapkan dalam undang-undang PBB yang melarang membuang jenazah di luar angkasa.
Untuk menyiasatinya, NASA harus kreatif. Badan antariksa Amerika Serikat ini membentuk beberapa tim peneliti untuk menghasilkan ide yang layak untuk pemakaman astronot yang meninggal di luar angkasa.
Menurut beberapa tim yang terlibat, hanya sedikit ide solid yang dikemukakan. Tetapi ada satu yang menonjol yang mungkin jadi jawaban dari pertanyaan selama ini.
Bekerja sama dengan perusahaan pemakaman ekologi Promessa, salah satu satu tim peneliti mengajukan ide yang disebut 'Body Back'.
Ide pemakaman luar angkasa ini sebenarnya terinspirasi dari perjalanan yang akan dilakukan manusia ke Planet Mars di masa depan.
Pertama, jasad astronot yang meninggal disimpan dalam tas khusus agar bau dan bakteri di dalamnya tidak mencemari udara di dalam pesawat luar angkasa.
Tas khusus tersebut disebut Gore-Tex. Sebenarnya ini hanyalah kantong jenazah biasa tapi dengan segel untuk pemakaian di luar angkasa. Dari sini perlakuan terhadap jasad seorang astronot terlihat layak.
Namun melakukan kremasi selagi di luar angkasa juga tidak mungkin. Masalahnya, api dan lingkungan dengan oksigen yang bertekanan tidak sama persis dengan yang ada di Bumi.
Akhirnya, muncul ide untuk membekukan jasad astronot yang meninggal di luar angkasa. Setelah dibekukan hingga benar-benar padat, jasad tersebut kemudian diberi getaran menggunakan lengan-lengan robot.
Dengan diberi getaran melalui lengan-lengan robot, jasad yang sudah padat itu akan hancur menjadi butiran-butiran yang halus mirip abu mayat yang sudah dikremasi.
Abu tersebut kemudian diambil dan dimasukkan ke dalam wadah khusus sehingga bisa dibawa kembali ke Bumi untuk diserahkan kepada keluarga mendiang.
Semua proses unik dan sedikit aneh ini dinamakan promession. Teknik ini sebelumnya telah ditemukan dan dikembangkan pendiri Promessa, Susanne Wiigh-Mäsak.
Susanne menemukan dan mengembangkan teknik pengabuan jenazah dengan pembekuan ini sejak tahun 2005 dan sempat menarik minat ilmuwan NASA.
Sayangnya, Promessa dikabarkan bangkrut pada tahun 2015 dan kabar dari teknik promession tidak ada kabarnya lagi.
Namun akhir-akhir ini promession dianggap sebagai satu-satunya jawaban bagaimana memperlakukan jasad astronot yang meninggal di luar angkasa.
Sumber: IFL Science
Advertisement
Dari Ring Tinju, Pekan Ini Manny Pacquiao Masuk Kabinet Filipina

Tumpukan Sampah Acara Ideafest 2026 Ternyata Diolah dengan Ekonomis

Ideafest 2026, Serunya Eksplorasi Ide di Rumah Indofood

Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global

AI Makin Ancam Manusia, PBB Ingatkan Dunia Jangan Terlambat Mengendalikannya


Masalah Keuangan Berkepanjangan Bisa Berkaitan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat, Ini Penjelasannya

Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Perempuan Usia 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an


Tembus 21 Juta Views, 'Kasih Aba-Aba 2.0' Naykilla & Tenxi Jadi Tren TikTok Untuk Sambut Shopee 9.9

Dari Ring Tinju, Pekan Ini Manny Pacquiao Masuk Kabinet Filipina


SARGA.CO Perluas Gaung Pacuan Kuda Indonesia Lewat Indonesia’s Horse Racing