Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Cacat (2): Lumpuh Tapi Tak Menyerah

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 22 Juni 2015 21:11
Cacat (2): Lumpuh Tapi Tak Menyerah
Divonis menderita Guillaina Barre Syndrome, penyakit yang menyebabkan kelumpuhan dari leher ke bawah. Tapi itu tak menghalanginya jadi pebisnis sukses dan motivator ulung.

Dream - Pagi itu, mendadak Barry Shore disergap rasa letih luar biasa. Kakinya nyaris tak mampu menopang tubuhnya saat perjalanan pulang ke rumah.

Matanya mulai berkabut. Rasanya ingin segera mendaratkan tubuh di kasur. Susah payah berjalan sempoyongan, Shore pun tiba di kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat.  

Shore buru-buru naik ke ranjang. Terkulai lemas. Tapi siapa sangka, hari itu, Jumat 12 September 2004, menjadi hari terakhir kalinya bagi dia naik ke tempat tidur sendiri tanpa bantuan orang lain untuk waktu yang lama.

Saat bangun tidur, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia mencoba untuk berpakaian tapi ia justru jatuh terjerembab ke kursi. Tak bisa bergerak lagi.

Anaknya yang masih remaja, Ezra, panik melihat sang ayah tak berdaya. Ia berlari memanggil dokter setempat. " Kondisi Anda cukup buruk!," kata dokter usai memeriksa.

Mereka kemudian membawa Shore ke rumah sakit menggunakan taksi. " Jangan khawatir, saya akan pulang besok," kata Shore menenangkan istrinya, Naomi, yang terus menangis.

Namun, hari demi hari kondisi dia semakin buruk. Pengusaha  berjenggot lebat itu merasa kesulitan menggerakkan badannya. Sampai akhirnya ia benar-benar lumpuh. Dari leher hingga ke bawah.

" Pagi harinya, saya masih bisa berdiri. Tapi malamnya, saya benar-benar lumpuh total," kenang Shore.

Dan sebuah kenyataan pahit harus diterima Shore. Dokter menvonis ia menderita penyakit serius yang disebut Guillaina Barre Syndrome (GBS).

Ini adalah penyakit yang disebabkan peradangan saraf progresif, berlangsung sangat cepat hingga mengakibatkan tubuh kehilangan sensasi, mengalami pelemahan otot dan kelumpuhan.

Dokter terus berupaya. Tapi mereka tak yakin apakah itu bisa membalikkan kelumpuhan yang dideritanya.

Shore berada di ruang gawat darurat selama sepekan lebih. Yang bisa ia lakukan hanya menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Menggerakan ujung jarinya saja ia sudah tak  sanggup. Setiap 20 menit dokter dan perawat datang untuk melakukan tes. Sayang, tak ada perkembangan berarti.

Sudah tujuh bulan di rumah sakit, kondisinya justru makin memburuk. Shore sama sekali tak bisa melakukan gerakan sederhana, seperti mengambil garpu plastik.

Pertama kali ia mencoba makan sendiri, makanan berakhir di dahinya. Setelah keluar rumah sakit, Shore menghabiskan dua tahun di atas ranjang rumahnya dan tiga tahun di kursi roda.

Saat itu, ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Ia tak ubahnya seperti 'mayat hidup'. Bagi kebanyakan orang, penderitaan itu niscaya akan menghancurkan semangat hidup.

Namun tidak bagi Shore. Sejak muda, dia dikenal sebagai pribadi yang ulet. Semangat hidupnya tetap membara.

" Saya dikelilingi oleh begitu banyak cinta. Istri saya selalu membuatkan makanan setiap hari. Staf rumah sakit sampai merasa terharu dengan apa yang dilakukannya" .

Dan, pria tua itu membuktikan tidak ada yang tak mungkin. Ia.....

1 dari 2 halaman

Lahir Ide Bisnis Cemerlang

Lahir Ide Bisnis Cemerlang © Dream

Shore tak mau berpangku tangan. Ia menolak dikasihani. Berbagai terapi ditekuni agar bisa sembuh. Hebatnya, itu dijalani sambil memulai kesibukan sebagai pebisnis. Meski pada awalnya dia mengandalkan semua pekerjaan kepada asistennya secara penuh.

Dari kondisi nestapa itu, Shore melahirkan sebuah ide bisnis cemerlang yang menghasilkan fulus miliaran dolar.

Pengalaman membangun dan kemudian menjual startup ke perusahaan besar seperti fax4free.com (eFax), membuatnya terlecut membuat lagi startup anyar yang diberi nama, Dlyte.com.

Dlyte.com adalah sebuah perusahaan kartu hadiah yang didirikannya pada tahun 2012 dan diluncurkan secara resmi dua tahun kemudian. 

Ia membangun bisnis yang memungkinkan konsumen untuk mendapatkan uang tunai atau barang dengan menukar poin untuk setiap kartu hadiah yang dibeli di Dlyte.

Dalam waktu singkat, bisnis startup itu tumbuh subur. Dan perlahan, kondisi Shore ikut berangsur pulih dari kelumpuhan berkat bantuan Vince Newman, seorang ahli terkemuka di bidang terapi fisik di dalam air, yang juga tetangganya.

Pada awalnya, Shore hanya bisa mengapung di air menggunakan sejumlah perangkat yang mengelilingi tubuhnya. 

Tapi dalam waktu enam bulan, ia mampu berenang dan menggerakkan badannya dalam air. Tak lama kemudian, ia mampu berenang gaya punggung dan dalam setahun ia mampu berjalan di dalam air.

" Bagi saya, bisa berenang dalam kondisi seperti itu adalah sejarah besar," katanya. 

Tepat di usia 58 tahun, Juni 2009, lima tahun sejak serangan kelumpuhan yang pertama, Shore akhirnya pulih dari kelumpuhan dan bisa berjalan sendiri meski masih memerlukan bantuan tongkat.

2 dari 2 halaman

Ubah Kemalangan Menjadi Kesuksesan

Ubah Kemalangan Menjadi Kesuksesan © Dream

Selain sebagai pebisnis handal dunia, Shore kini punya profesi baru sebagai moviator ulung. Ia telah berhasil mengubah kemalangan menjadi kesuksesan, berkat filosofi yang disebutnya PTL: Prayer (Doa), Therapy (Terapi), dan Love (Cinta).

" Doa-doa dari semua orang, di samping dari saya sendiri, menumbuhkan kekuatan spiritual untuk membuat semuanya bekerja. Sampai hari ini saya bertemu orang-orang yang mengatakan bahwa mereka telah mendoakan saya selama bertahun-tahun," kata dia.

" Dan cinta memberi saya kekuatan untuk bertahan. Tapi cinta harus berjalan dua arah, memberi dan menerima."

Shore menggunakan gairah, semangat dan kreativitasnya untuk menginspirasi orang-orang yang bekerja dengannya. Tentu saja hal itu tidak mudah dilakukan, badan yang lumpuh jelas jadi penghalang. 

Tapi pria tua itu membuktikan tidak ada yang tak mungkin. Dan, ini kelebihannya. Dengan usahanya itu dia bisa menghidupi ratusan sampai ribuan orang yang normal. Sebuah situasi yang bagi orang normal pun jelas sulit dilakukan.

Shore menolak membiarkan penyakitnya menghentikan dia dari berpikir, merencanakan bisnis dan bermimpi.

" Tetap positif dan selalu berpikir. Jika Anda terus mencoba, jawaban akan segera datang. Seperti kata moto salah perusahaan tersohor dunia,  'Just do it'....." .

Kelumpuhan karenanya bukan takdir yang tak bisa diubah. Apalagi akhir dunia. Barry Shore membuktikan, kelumpuhan tak menghentikannya sebagai pebisnis sukses. Yang dia lakukan hanya terus berusaha. Dan, sikap positif untuk tidak pernah menyerah… (eh)

(Sumber: businessnewsdaily.com, linkedin.com, totalimmersion.net)

Beri Komentar