Cacat (4): Sukses Sunyi Pengusaha Tuli

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 22 Juni 2015 21:08
Cacat (4): Sukses Sunyi Pengusaha Tuli
Lamaran kerja lulusan master komputer ini selalu ditolak perusahaan hanya karena ia tuli sejak kecil. Memilih jadi pengusaha dan sukses.

Dream - Sekilas tak ada yang tidak biasa pada pria tersebut. Selain pipi tembam dengan mata sayu, tak ada yang aneh pada pria itu. Tubuhnya seluruhnya normal, layaknya pria kebanyakan. Fisiknya juga terlihat kokoh dan kuat.

Tetapi, ajaklah dia bicara. Maka dia tidak akan mengerti maksud orang yang mencoba mengajaknya bicara. Ketika ada seseorang mengajaknya bicara, tangannya langsung bergerak cepat, memberikan isyarat bahwa dia tak mengerti maksud lawan bicaranya.

Ya, pria itu adalah John TC Yeh. Ia memang penderita tuna rungu. Dia tidak bisa mendengar lantaran tuli sejak kecil.

Selain karena kekuranganya itu, penampilannya terlihat tidak berbeda dengan orang kebanyakan. Sepintas orang banyak mungkin mengira John adalah seorang pria biasa. Bukan seorang pria cacat.

Namun ada rahasia besar di balik sosok John yang tuli. Dia ternyata adalah orang kaya pemilik beberapa perusahaan terkenal. Salah satunya Integrated Microcomputer System (IMS).

IMS merupakan perusahaan piranti lunak skala besar. Di dalamnya terdapat ratusan karyawan ahli di bidang komputer. Kebanyakan dari para pekerja itu adalah orang-orang normal.  Uniknya, pemiliknya merupakan pria tuli keturunan Tiongkok.

Pada tahun 1995, perusahaan itu membukukan keuntungan US$ 40 juta dolar AS atau Rp 520 miliar setahun.

Apa yang dialami John mungkin sulit diterima orang lain. John mengaku kerap mendapat perlakuan diskriminasi dari orang lain hanya karena dia tuli. Salah satunya adalah lamaran kerjanya selalu ditolak karena dia tuli, meski John merupakan lulusan perguruan tinggi ternama.

Meski demikian, John bukan sosok yang mudah menyerah. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, John memilih untuk terus berusaha. Pilihan itu terbayar lunas. John merupakan salah satu orang penderita cacat yang mampu meraih sukses.

“ Saya selalu ingin menjadi pelaku dan bukan pembicara,” ujar John, seperti dilansir National Technical Assistance Center (NTSC).

***

John lahir  di Taiwan... 

1 dari 2 halaman

Titik Tolak Kesuksesan

Titik Tolak Kesuksesan © Dream

Titik Tolak Kesuksesan

John lahir di Taiwan. Sejak kecil, dia memang sudah tuli. Di tahun 1962, ayahnya membawa John bersama ibu dan adiknya untuk pindah ke Amerika Serikat dengan alasan agar John bisa mendapat pendidikan yang lebih baik.

John dan adiknya yang juga tuli kemudian menempuh pendidikan sekolah khusus penderita tuna rungu di Kendall School. Di sekolah itu mereka belajar pelbagai pengetahuan juga bahasa isyarat. 

Lulus dari Kendall School, John melanjutkan pendidikan di Gallaudete University di Washington DC, Amerika Serikat. Dia mengambil jurusan matematika dan berhasil meraih gelar sarjana. Dia memang memilih jurusan matematika lantaran punya cita-cita sebagai guru matematika.

Sambil kuliah, John bekerja di rumah makan Hot Shoppes. Letaknya tidak jauh dari kampusnya. Di rumah makan itu, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih atau cleaning service. Pekerjaan itu tidak membuatnya harus banyak terlibat pembicaraan dengan orang lain.

“ Saya tidak perlu berbicara dengan orang lain, jadi saya bekerja di sana sepanjang kuliah,” kata John.

Lulus dari Gallaudete University, John melanjutkan pendidikan dengan mengambil gelar Magister di University of Maryland. Di universitas ini, John meraih gelar master pada bidang ilmu komputer.

Tetapi, mimpi buruk mulai terjadi. Setelah meraih gelar master, John mengajukan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Namun tidak ada satupun perusahaan yang menjawab lamaran John. Alasannya karena dia tuli. Dan, John mulai putus asa.

Di akhir 1970-an, John mulai menyadari pekerjaan yang cocok untuk orang tuli seperti dia adalah menjadi pengusaha. Frustasi dengan keadaan yang dialaminya, John bersama adiknya akhirnya memutuskan untuk mendirikan perusahaan piranti lunak IMS.

Perusahaan ini fokus menyediakan layanan piranti lunak untuk orang tuli. Selain pekerja normal, ia juga merekrut  karyawan yang tuli seperti dirinya. Dari perusahaan inilah, John merintis kesuksesannya.

***

IMS kemudian menjadi perusahaan... 

2 dari 2 halaman

Berdayakan Penyandang Tuna Rungu

Berdayakan Penyandang Tuna Rungu © Dream

Berdayakan Penyandang Tuna Rungu

IMS kemudian menjadi perusahaan yang mengantarkan John menuju kesuksesannya. Berbekal niatnya untuk menolong kelompok penyandang tuna rungu seperti dirinya, John kemudian dikenal publik sebagai jutawan. 

Tidak hanya itu, John juga meraih sejumlah penghargaan atas dedikasinya mempekerjakan orang tuli. Penghargaan tersebut berupa Norman Vincent Peale Foundation America’s Award, Employer of the Year Award dari Presiden Komite Ketenagakerjaan Penyandang Cacat. 

Di tahun 1989 dan 1989, IMS menerima penghargaan atas keunggulan teknologi dari KPGM Peat Marwick serta dari Arthur Young and Inc.

Pilihannya mempekerjakan para tuna runggu merupakan alasan di balik kesuksesannya. John merasakan betul pengalaman buruknya sebagai orang tuli, yang hampir tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan normal. Sehingga, pengalaman tersebut menjadi dasar John mengambil pilihan itu.

“ Hambatan terbesar sebenarnya bukanlah kultur kerja, melainkan komunikasi. Di tempat kerja, semuanya terhubung dengan komunikasi, dan kurangnya komunikasi yang baik dapat menyebabkan kesalahpahaman. Intinya adalah harus ada komunikasi yang sangat jelas untuk bekerjasama secara efektif,” ungkap John.

Pikiran John tidak dimiliki oleh kebanyakan pengusaha. Mereka memilih untuk mengabaikan para penyandang cacat dan lebih suka mempekerjakan orang normal. Hal ini menutup kemungkinan bagi para penyandang cacat untuk bisa mendapatkan penghasilan.

“ Banyak penyandang cacat mencari pekerjaan setiap hari. Pengusaha harus bersikap lebih terbuka dan bersedia mempekerjakan mereka, karena mereka akan mendapati para penyandang cacat akan menjadi aset berharga mereka,” terang John.

Meski cukup sukses, bukan berarti John tidak menerima tindakan rasial dari masyarakat Amerika yang tinggal di sekelilingnya. Tetapi, dia cukup bangga dengan langkahnya. Bahkan dunia melihat langkah tersebut merupakan langkah mulia.

“ Ini adalah sukacita yang besar bagi saya untuk dapat mengubah energi negatif --dari frustrasi awal saya-- ke kontribusi positif ini," terang John.

John, barangkali merupakan sosok yang sanggup membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang bagi seseorang untuk bisa sukses. Selain itu, John merupakan potret yang menginspirasi dunia tentang makna kemuliaan dengan mendudukkan para penyandang cacat pada tempat yang selayaknya sebagai manusia. (eh)

Beri Komentar