Efek Samping Remdesivir, Obat Terapi Covid-19 yang Disetujui BPOM

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 5 Oktober 2020 06:35
Efek Samping Remdesivir, Obat Terapi Covid-19 yang Disetujui BPOM
BPOM menyetujui penggunaan obat obat remdesivir untuk pasien Covid-19 di Indonesia.

Dream - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyetujui penggunaan obat obat remdesivir untuk pasien Covid-19 di Indonesia. Kemarin, Kamis, 1 Oktober 2020. Obat ini secara resmi diperkenankan masuk ke Indonesia sebagai obat terapi Covid-19.

Remdesivir bukanlah obat-obatan yang bisa didapatkan secara bebas karena izin yang dikeluarkan adalah untuk penggunaan darurat.

Menurut dokter spesialis paru Erlina Burhan ada beberapa efek samping dari pemberian remdesivir.

" Efek samping dari remdesivir ini adalah diduga akan mempengaruhi hati atau liver dan juga ginjal," kata Erlina dalam konferensi pers pada Kamis 1 Oktober 2020.

1 dari 3 halaman

Menurut Erlina, remdesivir memang bisa bisa meningkatkan enzim. Namun, lanjutnya, orang-orang dengan masalah penyakit liver atau ginjal, disarankan untuk tidak mendapatkan pengobatan ini.

" Pada uji coba yang akan kita lakukan, kita akan mengeluarkan pasien-pasien dengan masalah sakit liver atau sakit ginjal," ujarnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Pasien yang Boleh Dapat Pengobatan

Ilustrasi Virus Corona© Liputan6.com

Erlina juga menjabarkan beberapa kriteria pasien COVID-19 yang diperbolehkan untuk mendapatkan obat remdesivir.

Pasien harus diizinkan oleh dokter dan yang bisa mendapatkan remdesivir harus berusia di atas 18 tahun, dinyatakan terkonfirmasi COVID-19, dalam kondisi berat seperti saturasi oksigen di bawah 94 persen, serta mendapatkan bantuan ventilator mekanik.

 

3 dari 3 halaman

Selain itu, keluarga pasien juga harus menanda tangani persetujuan apabila pasien dimasukkan ke dalam uji coba pengobatan remdesivir untuk COVID-19.

" Sementara yang kita eksklusif adalah pasien-pasien dengan riwayat alergi, kemudian pasien yang ada kelainan liver, atau pasien-pasien dengan kelainan ginjal," kata Erlina.

" Kemudian (yang tidak boleh) juga pasien-pasien yang sedang menjalani atau mendapatkan obat penelitian lainnya."

Sumber: Liputan6.com

 

 

Beri Komentar