Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mengalami Masalah Pada Miss V. (Source: Shutterstock)
Dream - Rambut kepala dan bulu mata bukanlah satu-satunya yang bisa mengalami kerontokan. Selain kedua area tersebut, bulu pada kemaluan juga bisa rontok.
Hal ini seringkali membuat seseorang merasa takut karena cenderung jarang dialami. Apalagi, jika rontoknya berlebihan.
Padahal sebenarnya, kerontokan pada bulu kemaluan cukup wajar terjadi. Meski pada beberapa situasi, hal tersebut menjadi gejala menurunnya kondisi tubuh. Dilansir dari Sehatq.com, berikut penyebab kerontokan yang dialami di bulu kemaluan.
Bertambahnya usia
Bulu kemaluan bisa mengalami kerontokan, menipis dan beruban selayaknya rambut kepala. Pertumbuhannya juga akan melambat seiring dengan berjalannya waktu.

Kekurangan hormon Dehydroepiandrosterone (DHEA) yang diproduksi kelenjar adrenal bisa menyebabkan kerontokan bulu kemaluan pria maupun wanita.
Gejala penyakit tertentu
Beberapa penyakit memiliki gejala rontoknya bulu kemaluan. Di antaranya adalah autoimun, leukemia, sirosis hati serta penyakit addison.
Efek konsumsi obat-obatan
Mengonsumsi obat asam urat, antidepresan, pengencer darah, penurun tekanan darah atau pemicu perubahan hormon bisa menyebabkan rontoknya bulu kemaluan.
Hal ini dipicu oleh kerusakan folikel dan terganggunya siklus pertumbuhan rambut. Sehingga, terjadi penipisan pada bulu kemaluan.
Folikel rambut pada bulu kemaluan bisa rusak secara permanen akibat terlalu sering dicukur. Hindari terlalu sering melakukan waxing, elektrolisis atau menggunakan pisau cukur.
Atrofi pada miss V
Penurunan kadar estrogen seperti yang terjadi saat menopause bisa menyebabkan perubahan jaringan vulva serta miss V.
Hal tersebut memicu kerontokan pada bulu kemaluan, penyusutan jaringan miss V, kemerahan pada kulit di sekitar miss V, robekan kecil pada jaringan miss V di vulva serta menempelnya kulit di kedua sisi lubang miss V.
Efek samping terapi
Tidak hanya rambut kepala, terapi juga bisa menyebabkan kerontokan pada bulu kemaluan. Terapi yang dimaksud adalah kemoterapi dan terapi radiasi.
Kerontokan yang dialami juga bergantung pada dosis radiasinya. Jika radiasinya rendah, kerontokan bisa hilang sendiri. Jika dosisnya cukup tinggi, kerontokan pun bisa dialami secara permanen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya