Busana Hijab `Rajai` Indonesia Fashion Week 2015

Reporter : Kusmiyati
Senin, 2 Maret 2015 09:36
Busana Hijab `Rajai` Indonesia Fashion Week 2015
Para pelaku industri busana muslim pun ikut serta di ajang tahunan ini. Sekitar 160 tumpah ruah di Cendrawasih Hall, JCC seperti Dauky, Elzatta, Tuneeca, Temiko, Gerai Hawa, Rani Hatta dan lainnya.

Dream - Indonesia Fashion Week 2015 telah berlangsung sejak 26 Februari hingga 1 Maret 2015, kemarin. Acara yang dibuka Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia bersama beberapa menteri ini terbilang sukses. Salah satu parameternya, sukses menyedot ribuan pengunjung setiap harinya.

Jakarta Convention Center disulap bak pusat perbelanjaan di kota metropolitan. Hampir seluruh ruangan di JCC disesaki dengan pengunjung yang sekedar melihat atau berburu produk-produk lokal penunjang penampilan.

Hampir seluruh item fashion ada di IFW. Mulai dari busana hingga aksesoris seperti tas, kalung dan sepatu. Sekitar 747 brand dari 230 desainer siap memanjakan mata para pengunjung.

Para pelaku industri busana muslim pun ikut serta di ajang tahunan ini. Sekitar 160 tumpah ruah di Cendrawasih Hall, JCC seperti Dauky, Elzatta, Tuneeca, Temiko, Gerai Hawa, Rani Hatta dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu dua ruangan yang cukup besar tertutup kain hitam digunakan untuk pagelaran busana para desainer. Di tahun ini busana muslimah sepertinya mendominasi baik di pagelaran busana hingga pameran produk. Berikut keseruan Indonesia Fashion Week 2015 sampai hari terakhir. Klik halaman selanjutnya! (Ism)

 

 



1 dari 3 halaman

Busana Hijab Melantai

Dream - Di hari pertama 16 desainer busana muslim memeriahkan panggung IFW 2015. Parade busana muslim pertama di IFW 2015 digelar di Stage 2, Main Lobby, JCC sekitar pukul 14.30 WIB.

Kelima belas desainer tersebut yakni Anggia Handmade, Alisha by Zareena, Asyifa, Aramara, Errin Ugaru, Gadiza, Hazna Hijub, Intan Fahila, Morhoze by Misan, Lateefa, Rikamulle, Rya Baraba, Shasmira, Tuneeca, Unique dan Vie.

Mereka tampil dengan mengusung tema 'Next Level Purity'. Desainer Anggia membuka parade lewat label Anggia Handmade dengan menampilkan sekitar delapan koleksi bernuansa pink dengan kombinasi material satin dan taffeta yang dipadukan dengan detail manik-manik.

Dilanjutkan dengan penampilan Shasmira bertema 'True Beauty'. Di kesempatan ini Shasmira banyak menggunakan material jacquard cokelat yang dikombinasi dengan sifon.

Menyusul kemudian Ria Baraba yang mengeluarkan koleksi serba hijau. Koleksi gaunnya dipadukan dengan outerwear berupa blazer dan jaket pendek. Sementara Intan Fahilla menyuguhkan rancangan bernuansa pastel dengan lace putih menjadi ciri khasnya.

Berbeda dengan yang lainnya, Deny Anggraini hadir dengan koleksi bernuansa monokrom. Potongan maxi dress polos putih atau hitam yang dipadukan outerwear panjang dengan tambahan hoodie menjadi ciri khas di koleksi terbarunya.

Busana tabrak warna diusung Tuneeca di ajang kali ini. Nuansa terang seperti kuning dan merah mendominasi busana terbarunya. Dilanjutkan dengan pertunjukan desainer busana muslim asal Bandung, Errin Ugaru yang setia dengan warna hitam dengan material jacquard yang dipadukan warna shocking pink serta paduan hitam dan hijau metalik dengan aksen draperi.

Fashion show di hari pertama ditutup oleh koleksi dari Misan Kopaka bertajuk 'Metamorfosa' didominasi warna off white dan navy blue.

Sementara di mini stage yang terletak di dekat pintu masuk, digelar beberapa talkshow yang menampilkan Ala Hijab wadah untuk para hijabers seluruh dunia, ada juga penulis Asma Nadia yang memberikan tips seputar fesyen hijab ala traveler. (Ism) 


2 dari 3 halaman

Hijab All the Day

Dream -Di hari keduanya, hampir semua pagelaran busana diisi oleh desainer hijab. Fashion show dibuka oleh karya dari Nita Puspitasari dengan labelnya 'Chimod' yang mengeluarkan koleksi serba putih.

Nita menggunakan material katun, tulle, dan lace untuk 30 koleksi terbarunya ini. Koleksi bertajuk 'Pleasantly Perfect' ini lebih banyak bermain di layering serta tambahan cape.

Kemudian dilanjutkan dengan penampilan karya dari empat desainer busana muslim di bawah naungan Asosiasi Perancang Pengusaha Indonesia (APPMI). Keempat desainer itu adalah Merry Pramono dengan labelnya Si.Se.Sa, Nieta Hidayani, Tuty Adib, dan Nuniek Mawardi.

Mereka tampil selaras dalam satu pagelaran busana yang bertemakan 'Caravan sary'. " Kali ini saya membawa tema Dwipa yang terinspirasi dari bunga tulip karena kecantikan warnanya," kata Merry.

Dilanjutkan dengan Nieta Hidayani menampilkan tujuh koleksi dengan tema 'Lunede Feu' bermain dengan material songket dan taffeta yang disulap menjadi blazer dan vest. Ada pula dress satin dipadukan dengan outerwear berukuran besar bernuansa merah, oranye dan merah muda.

Berbeda dengan kedua rekannya yang menampilkan koleksi busana yang lebih berwarna, Tuty Adib yang mengusung tema Kinasih dalam fashion show-nya hanya menggunakan warna hitam, putih, dan shocking pink. Potongan jaket asimetris, cropped jacket, cropped top mullet mewarnai koleksinya.

Beberapa koleksinya ia lengkapi dengan tas jinjing. Beberapa bahan yang digunakan pada koleksi Tuty di antaranya, batik sekar jagad, batik parang, batik kawung, tenun lurik, linen, katun dan taffeta.

Koleksi busananya kali ini mengambil inspirasi dari beskap dan draperi busana dodot pengantin, lipatan, serta inspirasi detail kebaya yang menggambarkan keagungan dan keeleganan.

Nuniek Mawardi tampil sebagai penutup rangkaian show dengan membawakan 17 koleksi busananya bertema Future Caravansary. Kali ini, Nuniek memilih warna-warna lembut yang dipadukan dengan hitam, emas, dan oranye.

Sentuhan aksesori rajutan menyempurnakan penampilan hijabnya. Tak hanya itu ia juga menggunakan beberapa cape yang dilengkapi dengan kapucong untuk gaya berhijab. Bahan sheer dan beberapa detail kain tempel pada bahan dasar busana juga tak luput dari perhatian Nuniek.

Setelah rehat beberapa jam, pagelaran busana muslim kembali digelar. Sekitar 12 desainer yang tergabung dalam Muse tampil dengan membawakan tema The Waling Mannequin. Keduabelas desainer
tersebut yaitu House Of Nabilla, Kaimma Malabis, Kara Indonesia, 

Maima Indonesia, Missmarina, Monel, Nadjani, Novierock, Rani Hatta, Simply Mii, Temiko dan Vivi Zubaedi. Semua desainer menampilkan desain ready to wear sebagai penunjang penampilan sehari-hari. Missmarina membawakan sekitar 10 koleksi bertema Shibui yang terinspirasi dari karya arsitektur tadao ando. 

Mengusung nuansa abu-abu, cokelar maroon, karya Missmarina begitu simpel menghadirkan keindahan alam. Menurut sang desainer Dian koleksinya ini diharapkan dapat mengeluarkan inner beauty yang mengenakannya.

Sementara Temiko hadir dengan 15 tampilan bertema 'stronger'. Koleksi Temiko menampilkan warna-warna bold dengan koleksi blazer, jubah serta coat yang cocok untuk wanita aktif dan dinamis.

Setelah 12 desainer selesai membawakan koleksinya, kini saatnya Bezaya Group tampil memperagakan busana terbaru dari tiga label yang tergabung didalamnya.

Dauky, Elzatta dan Aira hadir dengan mengusung tema 'Nostalgic Journey'. Sekitar 60 koleksi ditampilkan ketiga brand yang memiliki karakter berbeda. Keseluruhan tampil bergaya simpel, untuk Elzatta lebih menitikberatkan pada hijabnya yang mengaplikasikan songket dan keragaman budaya Indonesia lainnya. 

Sementara Dauky lebih maksimal tampil secara keseluruhannya dan Aira menampilkan koleksi busana pengantin yang syar'i. Tahun ini Bezaya Group tampil berbeda dengan menampilkan Elzatta khusus pria. (Ism)

 

3 dari 3 halaman

Desain SMK Getarkan Dunia

Dream - Di hari ketiga, kolaborasi apik ditampilkan Desainer busana muslim Irna Mutiara dengan para siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulamag Banat di Kudus, Jawa Tengah.

Program yang diprakarsai oleh Djarum Foundation ini menghadirkan sebuah pagelaran busana hasil karya para siswa SMK dengan bimbingan Irna Mutiara. Mengambil tajuk 'Miracle of The Sun', para murid menerjemahkan konsep itu dalam 45 koleksi busana muslim bergaya syar'i, namun tetap wearable dan elegan.

Konsep Miracle of The Sun terinspirasi dari keindahan alam saat perjalanan menuju Kota Kudus yang dimulai pagi hingga petang. Tak heran warna yang ditampilkan pun netral seperti putih, beige, kuning pastel, abu-abu kemudian hitam yang menggambarkan malam.

Di malam harinya Irna tampil fashion show tunggal yang merilis koleksi terbaru untuk label busana pengantinnya, Irna La Perle. Sebelumnya Irna mengangkat tema Maroko dan dominasi warna putih, koleksi Irna kali ini pun jauh lebih berwarna.

Dalam tema Andalucia Belleza, desainer yang juga merancang untuk brand Up2date ini terinspirasi dari peradaban Islam di Andalusia. Meski yang dipamerkan adalah koleksi gaun pengantin, namun ia tetap setia dengan garis rancangannya yang simple dan minimalis.

Mengedepankan terusan-terusan berpotongan H-line dan A-line. Siluet busana muslim itu pun diterapkan pada bahan-bahan dutchess, silk, sifon dan velvet dengan warna dominan biru, merah dan emas menghasilkan tampilan nan elegan dan glamor pada pengantin wanita.

Beberapa tampil dengan kain panjang, sebagai detail pada jilbab yang membuat busana terlihat lebih berdimensi. Tak hanya kain panjang, belt tipis juga menjadi aksesori pemanis gaun-gaun koleksi Irna yang memang tak tampil dengan potongan lurus (mengingat Irna Mutiara adalah desainer yang mengutamakan busana muslim yang syar'i).

Detail menjadi kekuatan rancangan Irna yang hadir dalam siluet minimalis. Misalnya diterapkan dengan material lipit atau yang beraksen garis. Terlihat pula penerapan bordir, dan penempatan mutiara yang memberi aksentuasi pada gamis-gamis berpotongan minimalis dari Irna.

Keikutsertaan para desainer ini di IFW bertujuan untuk mengembangkan produk lokal sekaligus mendukung terlaksananya Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia di tahun 2020. (Ism)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam