Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kamu Pun Harus Memerhatikan Hal Ini. (Foto: Shutterstock)
Dream - Jika merasa celana dalammu lebih lembap dari biasanya, kamu tidak perlu khawatir selama cairannya tisak berbau atau berwarna.
Normalnya, miss V memiliki mekanisme untuk menjaga area tersebut tetap lembap dengan mengeluarkan cairan.
Namun pada kondisi tertentu, kamu pun harus memerhatikan hal ini karena miss V basah pun bisa menjadi pertanda kesehatan tubuh.
Fluktuasi hormon dan kesuburan merupakan 2 hal yang dapat memengaruhi basahnya miss V. Dilansir dari Sehatq.com, berikur beberapa penyebab miss V basah.

Sangat wajar jika setiap harinya kamu mengalami miss V yang basah. Miss V bisa memproduksi 1-4ml cairan per hari.
Cairan ini diproduksi oleh kelenjar Bartholin dan serviks. Namun, kondisinya bisa berubah ketika menjelang ovulasi atau masa subur. Dimana miss V akan memproduksi lebih banyak cairan.

Basahnya miss V juga bisa menjadi respons terhadap rangsangan yang diproduksi oleh kelenjar Bartholin.
Sehingga, cairan ini akan membantu miss V saat melakukan hubungan seksual agar tidak rentan terhadap gesekan.
Cairan miss V juga bisa ieluar hingga 1-2 jam setelah berhubhngan seksual. Namun seiring bertambahnya usia, miss V akan lebih kering dari biasanya.

Kelenjar Bartholin dipengaruhi oleh hormon estrogen. Tingginya hormon estrogen dapat memicu kelenjar Bartholin untuk lebih aktif memproduksi cairan pada miss V.
Untuk bisa mengontrolnya, kamu bisa menjalani terapi keseimbangan hormon agar miss V tidak terlalu basah. Hormon estrogen yang tinggi juga bisa membuat cairan lebih encer.

Jika kamu merasakan basah, gatal, perih dan sensasi terbakar, ini menandakan miss V sedang terinfeksi.
Di saat yang sama, miss V bisa memproduksi cairan berwarna putih, abu-abu atau kuning dengan bau amis.
Beberapa jenis infeksi yang bisa terjadi adalah infeksi jamur, vaginosis bakteri serta infeksi menular seksual lainnya.
(Sumber: Sehatq.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya